Islam Era Modern Jilid 5: Alasan Tidak Boleh Benci Ahok

Menoreh Tinta - Ada satu hadits Nabi yang selama ini mendorong Kami untuk membela Ahok --yang tidak menistakan al-Quran itu-- dan membela orang-orang non-Muslim yang merasa terganggu. Anda renungkan hadits ini baik-baik. Hadits ini menunjukan bahwa ajaran Nabi Muhammad Saw lebih indah dari yang kita sangkakan.

Islam modern
Islam modern - gambar:tribunnews.com

Nabi Muhammad Saw bersabda: "Barang siapa menyakiti seorang dzimmi (warga negara non-Muslim), maka dia telah menyakitiku." (man adza dzimmiyyan faqad adzani". Riwayat lain menyebutkan: "Barang siapa menyakiti seorang dzimmi, maka aku adalah musuhnya." (man adza dzimmiyyan fa ana khasmuh).
Baca juga: Propaganda Yang Merusak Agama

Artinya, kalau Kami--sebagai seorang Muslim dan pengikut Nabi Muhammad--berani menyakiti seorang Ahok, maka boleh jadi Kami kena ancaman dua hadits tersebut. Lihat. Betapa kerasnya ancaman Islam bagi yang menyakiti seorang non-Muslim.

Bayangkan. Betapa tingginya rasa kemanusiaan Nabi Muhammad Saw yang selama ini kita agung-agungkan. Kalau ada satu orang di antara umat yang dicintainya itu berani menyakiti orang non-Muslim yang beda Agama, maka dia menyatakan permusuhan kepada orang tersebut sekalipun orang tersebut adalah orang yang dicintainya. (Baca juga: Kemarahan Pada Ahok)

Sampai detik ini Kami--yang bukan siapa-siapa Ahok dan tak pernah disuruh apalagi dibayar Ahok--tak rela menyebut Ahok sebagai "penista al-Quran" apalagi musuh Islam. Setiap kali menulis kata mengina, menista, atau penista Kami selalu membubuhkan tanda petik dalam tulisan Kami. Kalau menyebut "penista" saja Kami tak tega, apalagi mempersamakan Ahok dengan Firaun dan Raja Namrud, seperti yang dilakukan oleh salah seorang ustaz terkenal. Itu sama sekali tidak adil.

Kami hanya takut menyakiti hati Ahok jika Kami menyebut dia sebagai penista dan musuh Islam. Dan kalau Kami menyakiti Ahok, Kami hanya takut menjadi musuh Nabi Muhammad Saw kelak di hari kiamat. Dia sudah menyatakan bahwa dia tidak anti-Islam juga tidak bermaksud menistakan al-Quran. Tapi umat Islam dengan mudahnya menyebut dia sebagai "penista" dan musuh Islam yang harus dipenjarakan. (Baca juga: Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Kami selalu bilang kalau orang menista dengan penista itu beda. Kalau Anda melacur satu kali, dan Anda melacur karena terpaksa, misalnya, apa rela Anda disebut sebagai pelacur? Kalau anda hanya mabuk satu-dua kali, apa mau Anda disebut sebagai pemabuk? Kalau Anda merokok satu-dua kali, apa pantas Anda disebut sebagai perokok?

Ahok sudah membangun masjid-masjid untuk saudara-saudara Muslim Kami di Jakarta. Dia sudah mengabdikan diri kepada warga DKI Jakarta sesuai dengan kamampuannya. Bahwa dia melakukan kesalahan, tolaklah kesalahannya, tapi jangan benci orangnya. Karena itulah yang diajarkan oleh Islam. Apakah Anda masih tega menyebut orang yang sudah membangun tempat ibadah dan menyantuni saudara-saudara Anda sebagai penista al-Quran dan musuh Islam? (Baca juga: Pola pikir Muslim Akhir Zaman)

Sampai kapanpun Kami tak akan pernah tega menyebut Ahok sebagai penista dan musuh Islam, kecuali jika dia memang terang-terangan memusuhi umat Islam seperti Abu Jahal dan Abu Lahab yang menabuh genderang perang. Kami tidak ingin menjadi musuh Nabi Muhammad Saw hanya karena menyakiti seorang Ahok. Dan Kami ingin mengingatkan saudara-saudara Kami untuk lebih hati-hati dalam menilai Ahok. Kami cinta kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana Kami cinta kepada Isa Almasih Alihissalam.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1184129641682030

Pemimpin Muslim Tak Selamanya Bijak, Pemimpin Bijak Tak Harus Muslim

Menoreh Tinta - Wahai kaum Muslim yang saleh dan beriman, ketahuilah bahwa pemimpin Muslim tak selamanya mampu menciptakan kepemimpinan yang Islami sekalipun dia Muslim. Sebagaimana pemimpin non-Muslim juga tak selamanya menciptakan kepemimpinan yang tidak Islami sekalipun dia non-Muslim. Islami atau tidaknya suatu kepemimpinan itu tak tertaut erat dengan Agama yang memimpin.
 
Pemimpin bijak


Orang non-Muslim bisa saja menciptakan kota yang Islami jika dia jujur. Sebagaimana orang Muslim juga mungkin saja menciptakan kota yang tidak Islami jika dia tidak jujur. Tidak semua orang Islam itu baik, sebagaimana tidak seluruh orang non-Muslim itu buruk. (Baca: Kemarahan Pada Ahok)

Alhasil, dalam memilih pemimpin, Agama itu hanya salah satu pertimbangan saja untuk memilih, tapi bukan satu-satunya. Meskipun bagi sebagian orang Agama adalah unsur terpenting, tapi tetap saja itu hanya salah satu, bukan satu-satunya. Artinya, kalau Anda sebagai Muslim meyakini bahwa ada Muslim yang lebih baik dan bisa lebih dipercaya ketimbang non-Muslim untuk memimpin, maka pilihlah yang Muslim.

Tapi kalau Anda melihat bahwa yang non-Muslim ternyata lebih mampu dan lebih bisa dipercaya ketimbang yang Muslim, bukanlah suatu keharaman jika Anda memilih yang non-Muslim. Dan inilah yang kami terima dari guru kami di al-Azhar. (Baca: Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Apa dalilnya? Sebelum Anda mengutip ayat al-Quran, timbanglah pernyataan ini dengan kewarasan Anda yang masih sehat dan belum terkontaminasi dengan ajaran kampungan. Percayalah bahwa Islam yang kita peluk tidak pernah bertentangan dengan kewarasan yang masih perawan juga tak akan mungkin bertentangan dengan nilai-nilai keadilan.

Sejauh menyangkut urusan sosial-keduniawian, Islam yang kami peluk bukanlah Islam diskriminatif yang terlampau lebay dalam mempertimbangkan keyakinan. Islam yang kami peluk akan selalu memandang bahwa yang paling terpenting untuk dijadikan pertimbangan dalam memilih pemimpin itu adalah kemampuan dan kejujuran, bukan hanya keyakinan. Karena yang kelak akan diurus oleh seorang pemimpin bukanlah keyakinan, melainkan urusan keduniawian. (Baca: Ingin pintu rezeki terbuka lebar?)

Inilah sejujurnya salah satu keindahan ajaran Islam yang kadang ditutup-tutupi oleh orang-orang yang berpikiran sempit dan politikus-politikus ganteng yang memiliki kepentingan. Tapi kalau memang Anda keukeuh dengan pandangan lain, ya silakan. Tidak jadi persoalan. Asal dengan satu catatan: Jangan suka memaksakan! Kalau memang Anda masih memiliki kewarasan!

Islam Era Modern Jilid 4: Propaganda Yang Merusak Agama

Menoreh Tinta - Para "ulama" ganteng dan beriman yang suka masuk tipi dan pengikutnya melimpah itu mestinya sadar bahwa ketika mereka memproduksi fatwa ataupun ceramah-ceramah Agama, yang akan menyimak fatwa dan pandangan-pandangan keagamaan mereka bukan hanya orang yang seagama dengan mereka, tapi juga ada orang-orang yang berbeda Agama.

Islam era modern
sumber gambar:aceh.tribunnews.com

Ada orang Kristen, Hindu, Budha, bahkan orang-orang Atheis yang terkadang otak mereka lebih canggih ketimbang kaum beragama. Mereka akan menilai ceramah dan fatwa Anda bukan dengan butiran ayat al-Quran, tapi dengan kewarasan dan akal sehat yang masih perawan. Manakala Anda buat fatwa yang tidak objektif atau ceramah yang konyol, mereka tentu akan berkata:

"Idih ini Agama norak banget. Cuma milih gubernur doank juga main larang-larang. Kan jadi gubernur mah engga ada urusannya dengan keyakinan. Idih ini Agama norak banget, ada orang yang tidak bermaksud menistakan, sudah minta maaf, tapi tetep saja disebut penista al-Quran. Sudah begitu didemo besar-besaran. Norak banget nih ulama berhadapan dengan orang kaya gitu aja harus main bunuh-bunuhan. Ga mau lah gua masuk Agama yang konyol. Mending gua ga beragama sekalian."
(Baca juga: Pantaskah memenjarakan Ahok?)
Paham ya ustaz ganteng ya? Yang menghalang-menghalangi Anda dari orang lain untuk mengenal Islam sungguhan itu sejujurnya diri Anda sendiri. Munculnya gerakan-gerakan teror itu benihnya dari ceramah dan fatwa-fatwa Anda sendiri. Adanya orang-orang yang murtad itu karena geli melihat kelakuan dan pandangan keagamaan Anda sendiri.

Sesekali Anda menyalahkan diri sendiri ketimbang terus-menerus menyalahkan orang "kafir" yang Anda yakini sebagai kandidat Ahli neraka di hari nanti. Makanya sebelum ngajak orang lain masuk Islam, Anda bersihkan dulu Agama Anda dari ajaran-ajaran kampungan yang norak dan jauh dari kewarasan. Katakan pada mereka bahwa itu bukan bagian dari Islam. Itu adalah ajaran gerandong dan mak lampir yang kini dibangkitkan kembali seiring dengan derasnya kebodohan.

Mana ada orang waras di dunia ini yang rela memeluk Agama yang penuh dendam dan kebencian. Di mana-mana orang itu suka dengan Agama yang pemaaf, santun, ramah, santai, tenang, indah, damai, masuk akal, dan yang terpenting, tidak membesar-besarkan persoalan yang tidak perlu dibesar-besarkan.
(Baca juga: Pola pikir Orang Islam Era Modern)

Penulis juga sebagai Muslim ogah banget memeluk Islam yang wajahnya demikian. Cuma untungnya Penulis tahu bahwa Islam yang sesungguhnya itu sangat indah, sesuai dengan kewarasan, dan senafas dengan denyut nadi perkembangan zaman. Hanya saja yang tampil di muka adalah Islam yang garang, kampungan dan sarat dengan kebencian.

Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda akan menjadi orang yang lebih waras dan lebih santun kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda akan merasakan kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan yang selama ini kita agungkan.

Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda tak akan menjadi orang culun yang buta dengan perkembangan zaman. Dan percayalah bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah Agama yang menjunjung tinggi keadilan. Tapi kini keadilan itu dirampas oleh orang-orang yang berkepentingan. Kini keadilan itu diperkosa oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan.

Dan keadilan itu kini sudah tewas dengan kezaliman yang dibungkus dengan nama Islam dan keagungan al-Quran. Dan sudah banyak orang-orang culun yang menjadi korban. Berhentilah Anda menyebar keculunan di negeri ini jika Anda masih berharap Agama Anda dilirik oleh orang-orang yang berbeda keyakinan.

Tampilkanlah Islam yang waras, ramah dan berkeadilan. Dan jangan sekali kali menampilkan ajaran Islam yang kampungan, norak, tengil, dan penuh kebencian kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Karena siapapun mereka dan apapun keyakinannya, mereka adalah hamba Tuhan yang harus kita muliakan.

Islam Era Modern Jilid 3 : Kemarahan Pada Ahok

Menoreh Tinta - Jangan pernah dengarkan ujaran konyol yang selalu bilang "Nabi Muhammad Saw itu tidak marah kalau yang dihina adalah dirinya. Tapi dia akan marah besar jika yang dihina adalah al-Quran dan Agamanya." Betul bahwa Nabi Muhammad itu bisa marah. Hanya saja amarahnya tak selalu diluapkan dengan ujaran kebencian yang bisa membuat orang lain marah.

nafsu amarah
Nafsu amarah - gambar: binainsan.com

Apa harus ketika Anda marah kemarahan Anda membuat Anda menjadi tidak ramah kepada orang yang marah? Bukankah amarah yang diekspresikan dengan marah hanya akan membuat orang yang tadinya marah menjadi lebih marah? Bukankah amarah yang diekspresikan dengan ucapan ramah akan membuat orang yang tadinya marah menjadi ramah? Bukankah cara semacam ini paling masuk akal untuk ditempuh oleh Nabi Muhammad Saw karena dia adalah Nabi yang penuh rahmah dan bukan Nabi yang penuh dengan amarah? (Baca juga : Alasan Mengapa Manusia Sulit Mengalahkan Nafsu)

Dalam marah pun Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang ramah. Cukuplah Anda melek dengan sejarah untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang ramah dan tidak mudah marah kepada orang-orang yang bersalah sekalipun keyakinan mereka salah. Sekiranya setiap kali ada orang yang menghina al-Quran dan Islam itu Nabi Muhammad langsung amuk-amukan, demo berjilid-jilid, dan main ancam bunuh kepada orang yang bersangkutan, niscaya tidak akan ada orang kafir yang sudi masuk Islam.

Siapa yang sudi dengan Agama demikian? Siapa yang akan sudi dengan Agama yang mengedepankan permusuhan? Siapa yang sudi dengan Agama yang memendam kebencian? Siapa yang sudi dengan Agama yang mengajarkan marah-marahan? Orang waras hanya akan sudi dengan Agama yang mengajarkan cinta dan kasih Kaming, bukan kebencian, marah-marahan, apalagi bunuh-bunuhan. Dan itulah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. (Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Nur Muhammad -Pusat Kesatuan Alam-)

Ada yang bertanya: Lantas kalau begitu kenapa Nabi Muhammad Saw melakukan peperangan? Jawabannya: Perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya tak lain sebagai bentuk pembelaan dan perlawanan. Dan ingatlah wahai kaum bersumbu pendek, Nabi Muhammad Saw--yang diutus sebagai rahmat kepada seluruh alam itu--memerangi kelompok di luar Agamanya bukan semata-mata karena mereka kafir, menghina Islam ataupun menghina al-Quran, tapi Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya memerangi kelompok di luar Agamanya karena merekalah yang terlebih dahulu mengumandangkan peperangan.

Artinya apa? Kalau mereka berdamai, Nabi Muhammad juga akan berdakwah secara damai, meskipun mereka menghina Islam dan al-Quran. Tapi kalau mereka mengajak perang--padahal Nabi Muhammad hanya mengajak--ya tentu orang waras juga akan berkata bahwa sangat wajar jika Nabi Muhammad dan kelompoknya melakukan pembelaan. Contohnya Anda diajak seseorang pergi ke Kairo, kemudian Anda menolak dan penolakan itu anda lakukan sambil mengambil golok untuk menebas leher orang tersebut. Apa salah kalau orang itu melakukan pembelaan? Sangat masuk akal bukan?

Lihatlah batapa warasnya ajaran Islam. Dan lihatlah betapa indahnya akhlak Nabi Muhammad Saw. Setiap kali disakiti oleh kaumnya--yang menghina Islam dan melecehkan ajaran al-Quran itu--dia selalu berdoa: Allahummaghfir liqaumi fa innahum la ya'lamun (Tuhan, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu)". Mengapa Nabi Muhammad Saw mengucapkan demikian? Karena Nabi Muhammad Saw bukan Nabi yang penuh kebencian, melainkan Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Tapi lihatlah kelakuan (sebagian) umatnya yang imut dan taat beragama itu: Ada orang salah dikit dan sudah minta maaf tapi masih saja didemo berjilid-jilid. "Penjaran Ahok". "Penjarakan Penista al-Quran". "Larang Pemimpin kafir". "Bela Islam". "Bela al-Quran". Alah macam-macamlah itu. Kami sendiri geli mendengarnya. (Baca juga : Khasiat membaca Al-Quran)

Kami tidak mengenal dan tidak akan sudi mengamini ajaran yang penuh kebencian semacam itu. Kalau Anda sudi melakukan hal tersebut, lakukanlah, tapi jangan mengatas-namakan Islam. Ingat ya, seperti yang sudah Kami tulis, yang demo itu minoritas, bukan mayoritas. Jadi tidak perlu mengatas-namakan Islam.

Hilangkanlah keculunan yang membuat Nabi Anda yang penuh cinta dan kasih Kaming itu buruk di mata orang-orang yang berbeda keyakinan. Nabi yang Anda imani bukan hanya rahmat bagi orang-orang Islam, tapi juga rahmat bagi seluruh alam, termasuk kelompok yang Anda sesat-kafirkan. Dia tidak pernah mengumandangkan permusuhan kecuali kepada orang atau kelompok yang memang menyatakan permusuhan. Dan itu sangat masuk akal.

Percayalah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi yang santun, penuh cinta dan memimpikan perdamaian. Karena apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Isa al-Masih Alaihissalam. Nabi Muhammad dan Isa Almasih adalah dua utusan Tuhan yang diturunkan untuk menebar kedamaian, bukan kebencian apalagi bunuh-bunuhan. Tidakkah Anda berpikir wahai para pembela al-Quran?

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1189429481152046

Islam Era Modern Jilid 2 : Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Menoreh Tinta - Dalam Islam dikenal konsep amar ma’ruf-nahi munkar (memerintahkan yang baik dan menolak yang munkar). Ini adalah tuntunan Al-Quran yang harus kita amini. Hanya saja, yang penting untuk dijadikan catatan, memerintahkan yang ma'ruf harus dengan cara yang ma’ruf. Sebagaimana menolak yang munkar juga tidak boleh menggunakan cara yang munkar.
 
amar ma’ruf-nahi munkar
Amar ma’ruf-nahi munkar - gambar: visimuslim.net

Mengapa demikian? Karena memerintahkan yang ma'ruf dengan cara yang munkar tentu akan menimbulkan kemunkaran. Sebagaimana menolak yang munkar dengan cara yang tidak ma’ruf hanya akan menimbulkan kemunkaran baru yang terkadang lebih munkar. Betul bahwa keduanya harus berjalan secara beriringan. Hanya saja keduanya harus berada dalam koridor yang ma’ruf, bukan yang munkar. (Baca juga: Khasiat Ayat-ayat Al-Quran, Hizib dan Do'a)

Kalau kaidah semacam ini diindahkan, Kita yakin umat Islam tak akan menimbulkan kerusuhan. Masalahnya kadang sekarang itu kebalik. Makanya rusuh di mana-mana. Yang ma’ruf disampaikan dengan cara yang munkar, dan yang munkar kadang ditolak dengan cara yang tidak ma’ruf.

Yang ma’ruf kadang dibungkus dengan kemunkaran, dan kemunkaran kadang dibalut dengan kearifan. "Si ma'ruf" (penyeru kearifan) kadang tidak sadar kalau dia sedang menyampaikan kemunkaran, dan "si munkar" (penolak kemunkaran) juga kadang tidak sadar bahwa yang sedang dia lakukan bukanlah sebuah kearifan.

Lalu tugas kita apa? Tugas kita bukan hanya amar ma’ruf nahi munkar --dalam pemaknaan orang kebanyakan--. Tugas kita yang tak kalah penting dari itu ialah: meluruskan “si ma’ruf” agar menyampaikan yang ma’ruf dengan cara yang ma’ruf. Dan mengingatkan “si munkar” agar menolak kemunkaran dengan cara yang tidak munkar. Karena ini juga bagian dari amar ma'ruf nahi munkar.

Ketika memerintahkan yang ma'ruf Islam tak menghendaki kecuali terciptanya sebuah kearifan. Dan ketika menolak yang munkar Islam tak mengendaki kecuali terciptanya sebuah kedamaian. Kalau semua ini dipahami dan diaktualisasikan dengan baik, percayalah bahwa apa yang diinginkan “si ma’ruf” akan berbuah kearifan. Sebagaimana yang dikehendaki oleh “si munkar” juga pasti tak akan menimbulkan kemunkaran. (Baca juga : Metode belajar "meniru" dalam tinjauan agama Islam)

Andai umat Islam bersatu padu dalam mengamalkan tuntunan Al-Quran yang satu ini dengan lurus, niscaya negeri kita akan damai dan jauh dari kerusuhan seperti yang selama ini kita rasakan. Karena Islam pada dasarnya adalah Agama yang damai, bukan Agama yang suka mengganggu perdamaian. Islam adalah Agama yang tenang, bukan Agama yang suka mengganggu ketenangan.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1188126887948972

Islam Era Modern Dan Bagaimana Pola Pikir Mereka Jilid 1

Menoreh Tinta - Teman-teman Kristen --yang kami cintai-- terus terang bahwa sekarang ini, sudah banyak orang Islam yang "lebih Kristen" ketimbang orang-orang Kristen. Kalau berbicara soal teks, tuturnya, dalam tradisi kekristenan sendiri ada teks-teks yang potensial menyulut kekerasan. Hanya saja, teks-teks tersebut tak dibaca sesuai konteksnya. Akhirnya menimbulkan kebencian. Dalam Islam juga demikian. Teks-teks yang secara lahiriah tampak "garang" itu harus dibaca secara holistis dan kontekstual, bukan dengan pembacaan parsial, dangkal dan irasional.

Islam era modern
Islam era modern - gambar:sindonews.com

Jangan hanya karena kutipan satu-dua ayat lantas Anda seenaknya menghukumi seseorang dengan sebutan kafir, sesat, dan abadi di neraka selama-lamanya. Jangan hanya karena bermodal Almaidah 51 lantas Anda seenaknya menyapu-ratakan seluruh Yahudi dan Nasrani itu musuh Islam, kafir, dan tak boleh dijadikan pemimpin di Indonesia. Kalau Anda tidak mau Agama anda disebut Agama yang "norak", tinggalkanlah cara berpikir sempit semacam itu.

Baca juga: Cerita Rohani Nabi Muhammad SAW, Beliau “Sedang tidak bersama kita”

Semua yang belajar Ilmu Tafsir pasti tahu bahwa setiap ayat dalam Al-Quran itu memiliki kaitan erat dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Ada yang disebut siyaq, sibaq dan lihaq. Itu sebabnya dalam tradisi Ilmu Tafsir dikenal istilah Ilmu Munasabat al-Ayat (Ilmu tentang korelasi ayat). Karena Al-Quran itu --seperti yang diilustrasikan para Mufassir-- adalah satu kesatuan rantai yang tak terpisahkan.

Artinya, kalau Anda suka memenggal satu ayat --Almaidah 51 misalnya-- dengan mengabaikan keterkaitan ayat tersebut dengan ayat-ayat yang lain, baik sebelum maupun sesudahnya, Anda sudah menempuh metode konyol yang tak diamini oleh para Mufassir itu sendiri. Apa bedanya Anda dengan kaum Jihadis yang suka teriak-teriak bunuh dengan bermodal satu dua ayat quran itu? Semua pelajar Muslim kami kira tahu ini. Tapi giliran urusan politik kaidah suci ini diumpet-umpetin ke tong sampah.

Lepas dari perdebatan soal itu, dari teman Kristen tadi kami belajar bahwa di tengah "kemelut" Pilkada DKI yang semakin panas dan aduhai ini, masih ada orang-orang waras yang menilai Agama secara objektif dan terukur. Orang-orang yang tak suka mencampur adukan antara praktek umat beragama yang tak mencerminkan Agama, dengan teks-teks Agama yang kadang disalah-pahami oleh para pemeluk Agama.

Baca juga: Kisah bersejarah Imam Syafi'i kecil VS gerombolan perampok, inilah makna sebenarnya

Ingat, apa yang dilakukan oleh pemeluk Agama itu tak selamanya mencerminkan Agama, bahkan kadangkala menodai ajaran Agama. Dalam beragama itu setidaknya ada empat kelompok: Ada orang yang paham dan pemahamannya benar. Ada orang yang paham tapi pemahamannya keliru. Ada orang yang tidak paham tapi mau paham. Dan ada juga orang yang tidak paham, kemudian tidak mau paham, sudah begitu pura-pura paham dan memahamkan orang lain dengan pemahamannya yang salah paham.

Paling repot itu memang kalau sudah berurusan dengan yang keempat ini. Apalagi kalau sudah terlanjur disebut ulama. Kalau Anda berani "mencubit" mereka, bersiap-siaplah Anda disebut sebagai orang tak beradab dan kurang ajar kepada ulama. Intinya, sebagai orang waras kita harus adil dalam memahami Agama. Sebagaimana kita juga harus berlaku adil kepada orang-orang yang tak seagama. Karena itulah yang diajarkan oleh Agama kita.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1182965441798450

Mengenal Lebih Jauh Tentang Nur Muhammad (Pusat Kesatuan Alam)

Menoreh Tinta - Beliaulah yang pada mula-mulanya sekali menyatakan bahwasannya kejadian alam ini pada mulanya ialah dari pada hakikatul Muhammadiyah, atau Nur Muhammad. Nur Muhammad itulah asal dari segala kejadian. Hampir samalah itu perjalanan persamaannya renungan seorang ahli filsafat yang mengatakan bahwa yang mula-mulanya terjadi adalah “Aqal Pertama”. 

Nur Muhammad
Nur Muhammad - sumber gambar:hikmahnuralam.blogspot.com

Menurut katanya, Nabi Muhammad itu terjadinya dua rupa. Ya, rupa yang Qadim dan yang Azali. Dia telah ;ebih dulu terjadi sebelum terjadinya seluruh yang ada di alam ini semesta ini.

Dari padanya di-sauk segala ilmu dan ‘Irfan, yang kedua ialah rupanya sebagai manusia, sebagai seorang Rasul dan Nabi yang di Utus oleh Tuhan. Rupa yang sebagai manusia itu menempuh maut. Akan tetapi rupanya yan Qadim itu tetap ada meliputi seluruh alam.

Maka dari Nur rupanya yang Qadim itulah diambil segala Nur buat menciptakan segala Nabi-Nabi dan Raul-Rasul dan juga para Auliaa. “Cahaya segala kenabian dari pada Nur-nya lah yang nyata, dan cahaya mereka itu dari cahayanyalah diambilkan. Tidaklah ada suatu cahaya yang lebih bercahaya dan lebih nyata, yang lebih qadim dan lebih mulia. 

Kehendaknya mendahului segala kehendak, Ujudnya mendahului segala yang ‘Adam’, namanya mendahului Qalam pun sendiri, karena dia telah terjadi sebelum terjadi apa-apa yang terjadi”.
Segala yang diketahui adalah hanya satu tetes saja dari pada lautan ilmunya. Di atasnya megam mengguruh, dan di bawahnya ada kilat menyinar dan memancar, menurukan hujan dan memberikan kesuburan. Segala ilmu adalah setetes dari air lautan. Segala hikmat hanyalah satu piala dari sungainya. Seluruh zaman hanyalah satu saat kecil dari masanya yang jauh.
“Dalam hal kejadian adalah yang awal, dalam hal ke-Nabian, dialah yang paling akhir. Alhaqq adalah selalu dengan dia, dan dengan dialah hakikat. Dialah yang pertama dalam hubungan, dialah yang akhir dalam ke-Nabian, dialah yang batin dalam hakikat dan dialah yang lahir dalam ma’rifat”.

Pendeknya, Nur Muhammad itulah pusat kesatuan alam, dan pusat kesatuan Nubuwwat segala Nabi, dan Nabi-Nabi itu, nubuwwat-nya, ataupun dirinya itu hanyalah sebagaian saja dari pada cahaya Nur Muhammad itu. Segala macam ilmu, hikmat dan nubuwwat adalah pancaran belakadari sinarnya.

Ingin cepat mendapat jodoh? Lakukan amalan-amalan ini

Menorah Tinta - Jodoh memang sudah ada yang menentukan, jodoh juga sudah diatur oleh Allah Ta’ala. Akan tetapi jodoh juga tetap harus diusahakan, harus ada ikhtiar dari yang bersangkutan. Gampangnya begini, rizki juga sudah ada yang mengatur kan? Jika anda tetap berada di dalam kamar dan pasrah, bukan tidak mungkin selama itu anda bisa hidup tanpa apa-apa.

amalan mendapatkan jodoh
amalan mendapatkan jodoh - sumber gambar: kabarmakkah.com

Begitu juga dengan jodoh, juga harus ada ikhtiar di dalamnya. Tapi ingat, ikhtiar mencari jodoh disini bukan berarti harus pacaran atau menggoda lawan jenis, akan tetapi lebih kepada cara yang lebih baik. Kenalan tetap jalan, akan tetapi untuk berlanjut ke pacaran pikirkan dulu itu baik apa tidak.

Selain berkenalan dengan orang lain, cobalah kita melakukan amalan-amalan ibadah ini agar Tuhan juga ikut menunjukkan jalan kita mempermudah pencarian jodoh kita.

Amalan-amalan itu berupa dzikir-dzikir dan do’a yang bisa kita lakukan setelah selesai menjalankan shalat fardlu lima waktu. Amalan-amalan mencari jodoh ini juga tergolong amalan yang ringan sekali, tidak begitu memberatkan bagi yang menjalankannya.

Langsung saja berikut ini adalah beberapa amalan yang dapat kita lakukan untuk mempercepat kita mendapatkan jodoh, anda bisa memilih salah satu dari amalan-amalan di bawah ini atau mungkin anda bisa melakukan semuanya (itu akan lebih baik lagi):

Bacalah BASMALLAH sebanyak 100x, kemudian lanjutkan dengan membaca do’a :

QUL IN KUNTUM TUKHIBBUNALLOHA
FATTABI-UNI YUKHBIBKUMULLOHI,WAYAGHFIRLAKUM DZUNUBAKUM
WALLOHU GHOFURURROKHIIM
sebanyak300X
ROBBI HABLII MILADUN-KA ZAUJAN(JIKA MENGINGINKAN PRIA) / AZWAJAN(JIKA MENGINGINKAN WANITA) THOYYIBAN WAYAKUUNA
SOKHIBALII FIDDUN-YA WAL AKHIROH
sebanyak100X
KHASBIYALLOHU LAA ILAHA ILLA HUWA ‘ALAIHI TAWAKALTU
WAHUWA ROBBUL ‘ARSYIL ‘ADZIIM
sebanyak100X

Lakukan wirid ini setelah shalat ‘isya. Jangan lupa terlebih dahulu anda siapkan sebotol minuman seukuran 1 liter. Setelah selesai membaca wirid ini, langsung tiup sebotol air itu tanpa jeda. Maksudnya begini, ketika selesai membaca wirid, jangan tunggu lama-lama, langsung tiup sebanyak 3 kali tanpa bernafas.

Minumlah air itu dimanapun anda berada dan kapan saja asalkan tidak lebih dari maghrib, sebab ketika waktu Isya sudah datang, anda dianjurkan untuk melakukan amalan ini lagi. Lakukan wiridan ini secara rutin setiap hari sampai anda mendapatkan jodoh, dan Inysa Allah akan sesuai dengan keinginan yang anda harapkan.

Membaca shalawat nariyah

Setelah shalat shalat 5 waktu bacalah Shalawat Nariyah ini sebanyak 41 kali, akan tetapi untuk anda yang mempunyai kesibukan luar biasa bisa meringkasnya menjadi 11 kali hanya saja yang lebih utama adalah 41 kali.
Setelah selesai membaca shalawat Nariyah, lanjutkan dengan membca do’a : Allohumma hablana min azwajina wa qurota akyunin waj’alna lilmuttaqiina imama, bacalah do’a tersebut sebanyak 11 kali.

Puasa selama 7 hari

Lakukan puasa selama 7 hari dengan di niati tirakat, selama menjalankan puasa tersebut setelah selesai menjalankan shalat lima waktu bacalah surat Al-Fatihah sebanyak 71 kali yang dikhususkan kepada orang yang kita cintai. Maksudnya dikhususkan di sini adalah seperti kita sedang ber-tawashul.

Dan ketika hendak sahur, sebelumnya hendaklah melakukan shalat tahajjud terlebih dahulu dan membaca surat al-Fatihah sebanyak 300 kali. Jika kita belum mempunyai seseorang yang kita cintai, maka bacaan surat Al-Fatihah itu kita khusus kepada seluruh muslimah yang belum menikah. Amalan ini juga terdapat dalam kitab Jawahirul Hikmah.

Membaca surat Yasin

Bacalah surat Yasin sebanyak 41 kali setelah selesai menjalankan shalat Isya. Barulah anda bisa berdo’a memohon kepada Allah Ta’ala agar dimudahkan jodohnya dan mendapatkan jodoh yang shaleh dan shalihah. Ini adalah amalan dari salah satu Ulama’ terkenal di indonesia.

Membaca wirid “Wa allafa baina quluubikum”

Hafalkan dan bacalah wirid “Wa allafabaina quluubihim la anfaqtamaa filardhi jamii'an maa allaftabaina quluubihim wa laa kinnallaaha allafa bainahum innahuu 'aziizun hakim”. Bacalah wirid sebanyak-banyaknya sekuat anda dimanapun anda berada. Semakin banyak anda membaca wirid ini maka akan semakin mudah datangnya jodoh anda.

Cerita Rohani Nabi Muhammad SAW, Beliau “Sedang tidak bersama kita”

Di sini tidak boleh kita lalaikan mengaji tentang rahasi besar ini. seorang kepala perang, seorang pembangun sebuah Negara, seorang yang sanggup mengendalikan sebuah rumah tangga dengan 9 istri, seseorang yang karena kebesarannya nyaris membuat seorang badwi mati kejang karena baru saja melihat wajahnya karena takut.

cerita rohani Nabi Muhammad SAW
Cerita rohani Nabi Muhammad SAW - sumber gambar: kota-islam.blogspot.com

Orang ini tidak dapat dibandingkan dengan kepala perang seperti Julius Caesar, Napoleon, Atilla, atau Darius atau bahkan Iskandar yang berhasil menaklukkan konstantinopel.

Karena ketika kita melihat sikapnya, maka kita akan teringat dengan sebuah ayat yang turun:
“Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pergantian siang dan malam, adalah menjadi ayat yang besar bagi orang-orang yang yakin”.

Suatu hari, seorang Bilal datang, karena telah terlambat beberapa menit, beliau belum juga datang ke Masjid untuk sembahyang Shubuh. Didapatinya beliau sedang menangis hingga membasahi bantalnya, “Mengapa Engkau menangis Ya Rasul Allah? Padahal Allah Ta’ala telah berjanji akan mengampuni dosa-dosa tuan, baik yang terdahulu maupun yang akan datang”, kata Bilal.

“Bagaimana aku tidak menangis ya Bilal, padahal tadi malam datang ayat begini (kemudian beliau membacakan ayat yang sudah disebutkan diatas), maka sengsaralah orang yang membaca ayat ini dan tidak ingin memperhatikan isinya”.

Bahkan kadang-kadang, hubugnan beliau terputus dengan orang-orang di sekelilingnya padahal beliau hidup di antara dan di tengah-tengah mereka.

Pada suatu beliau pernah duduk seorang diri, masuklah istri beliau yang muda, Aisyah. Bertanyalah beliau kepada Aisyah, 

“Engkau siapa?”
“Aisyah”
“Aisyah siapa?”
“Aisyah anak Shiddiq”
“Shiddiq? Siapa Shiddiq?”
“Abu Bakar, sahabat Muhammad”

Mendengar itu beliau tidak lagi menjawab dan bertanya, Aisyah tahu bahwa ketika itu Nabi Muhammad “Sedang tidak bersama kita”.

Hari bersejarah sebagai pemisah jaman jahiliyah dengan jaman penuh cahaya ke-Islaman

Ke dalam gua hira beliau pergi menyisihkan dirinya, memutuskan hubungan sementara waktu dengan masyarakat sekeliling, mencari kebersihan rohani dan memohon diberikan ketentuan jalan yang akan ditempuh, pada setiap bulan Ramadlan selama bertahun-tahun sebelum beliau ditetapkan sebagai Rasul.

gua hira
Gua hira sebagai tempat bersejarah terjadinya Yaumul Furqaan (sumber gambar:jilbabflowidea.com)

Di sanalah beliau melepaskan jiwa dari pada ikatan kemewahan dunia, keributan dan kerepotan hidup. Dibawanya sedikit bekal dan selebihnya perhatiannya dihadapkannya kepada Ujud semesta. Memandang dan merenung dengan mata hati ke seluruh bekas kekuatan dan perbuatan Ilahi. Maka tidakah terganggu kemurnian jiwa itu oleh huru-hara dunia dan pengaruh maddi.

Bila bulan ramadlan telah habis, beliau turun ke bawah dan bertambah kuatlah pendirian dan sikap jiwanya. Menurutlah badan jasmani kepada kebesihan rohani.

Dan ketika bulan Ramadlan datang kembali, naik pulalah beliau ke Gua itu lagi. Puncak dari Gua itu di tandai oleh batu putih, kira-kira butuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa mencapai kaki bukitnya saja. Sedangkan untuk bisa mencapai puncaknya kira-kira butuh waktu sekitar 2 jam lagi, tempat bersejarah itu.

Di tempat terpencil itu, di atas bukit itu. Kian lama kian adalah ketentuan perjalanan jiwa dan membukakan hijab yang menutupi perhubungan ruhani dengan alam ghaib. Hijab teresebut tak lain adalah tubuh kasar yang maddi ini. Hilanglah keraguan, datanglah keyakinan, dan dapatlah dipersisihkan antara perkara yang haq dengan yang bathil, yang benar dan yang salah, yang terang dan yang gelap.

Akhirnya datanglah Nur yang ditunggu-tunggu itu, merupalah Malaikat dii hadapan mata beliau. Dia adalah malaikat Jibril, yang kadang-kadang disebut sebagai Ruhul Amin, dan kadang-kadang juga disebut sebagai Namus. Datang menyuruh beliau membaca, tapi pada saat itu beiau belum pandai membaca. Dipeluknya badan beliau seerat mungkin hingga keluar keringat setengah pingsan. Dan akhirnya diajarkanlah kalimat itu. Sebuah inti-sari dari ajaran yang akan dibawa dan disiarkannya di kemudian hari nanti. Dan dilihatlah oleh beliau di langit sebuah tulisan : “Tiada Tuhan kecuali Allah, dan Muhammad adalah pesuruh Allah”.

Hari itu dinamakan “Yaumul Furqaan”, artinya adalah hari pemisah

Pemisahan antara kegelapan jahiliyah dengan cahaya ke-Islaman. Pada saat itu jatuh tepat pada tanggal 17 Ramadlan. Setelah Muhammad turun ke Mekkah, ikhwal itu disampaikannya kepada istrinya Khadijah. Oleh Khadijah, dibawakan Muhammad kepada pamannya, seorang alim yang mengetahui kitab-kitab dan riwayat Nabi-Nabi yang terdahulu, yaitu Warakah bin Naufal. Beiau berkata, “Itulah Namus! Yang datang kepada Musa dan Nabi yang lain”.
 
Namus itulah yang datang kepada Musa di bukit Thursina ketika Musa bertapa selama 40 hari lamanya meminta ketegasan Hukum Taurat. Namus itulah yang merupa dihadapan Maryam ketika beliau dititahkan untuk mengandung putranya Isa Almasih diluar dari kebiasaan alam.

Namus itulah yang merupa kepada Isa setelah beliau selesai dimandikan oleh Yahya.

Itulah permulaan hidup baru bagi Muhammad. Dan itulah juga permulaan dan bangkitnya suatu ummat dalam sejarah, dari Gua Hira, dari kesepian samadi dan tapa. Kehidupan Muhammad dan riwayat perjuangan beliau adalah sumber hayat yang amat kaya bagi seluruh pengikutnya.

Beliau dapat dipandang dari segala sisi hidup, kejujurannya dalam berniaga (sebelum beliau menjadi Rasul), menjadii suri tauladan bagi kaum saudagar.

Keikhlasan dan keteguhannya memegang amanat, sehingga sanggup dijadikan hakim dalam suatu persengketaan yang nyaris menimbulkan pertumpahan darah, seperti contohnya ketika 4 orang hendak berebut mengembalikan batu hitam ke tempatnya. Menjadi suri tauladan bagi pendamai, kasih sayangnya dalam rumah tangga sebagai seorang suami dan seorang ayah, menjadi suri tauladan bagi pembangun rumah tangga.

Keberaniannya dalam peperangan, kebijaksanaannya dalam memerintah negeri dan keahliannya berpidato, serta 1001 macam keutamaan yang lainnya, semuanya adalah sumber telaga yang tak habis-habisnya bagi ummatnya yang setia. Maka kaum shufiyah yang mensucikan dirinya dalam khalawatnya itupun mengambil contoh teladan atas amal-amal mereka dalam khalawat suluk dan thariqat serta sistem-sistem lainnya seperti khalawat dan tahhannust Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, sampai terbuka hijab ke-ghaib-an oleh kemurnian jiwa.

Menurut penyelidikan ahli-ahli kebatinan yang telah tua-tua, baik dari segi rahasia ghaib atau dari segi kecerdasan otak dalam berfikir (filsafat), semuanya sependapat bahwa untuk menjernihakn pandangan jiwa rohani hendaklah mengurangi makan. Terlalu banyak makan menimbulkan kantuk dan perut buncit dan berat badan. Hawa yang naik ke otak, menyebabkan otak tidak bekerja lagi, sebab itulah semua sependapat, bahwa untuk itu perlu dikurangi makan.

Nabi Muhammad SAW ketika pergi berkhalawat hanyalah dengan sedikit persediaan makanan dan sedikit sekali air. Shufi-pun sengaja mengurangi makan apabila mereka berkhalwat.

Dengan melalui banyak cara dan sistem, yang kadang-kadang tidak bertemu dalam pelajaran fiqh, melainkan hanya dari pengalaman-pengalaman seorang guru yang kemudian dibisikkan kepada muridnya, berkat rasa yakin, mereka akhirnya menemukan suatu jalan dalam menuju keindahan dan kemurnian hidup kerohanian. Mereka mulai mengambil contohnya dari keadaan yang ditempuh Nabi Muhammad SAW dan yang telah menjadi permulaan dari sejarah besar yang menggoncangkan alam semesta.

Kisah bersejarah Imam Syafi'i kecil VS gerombolan perampok, inilah makna sebenarnya

Kisah ini memang sudah tidak asing lagi di telinga kita semua, khususnya bag iorang-orang muslim yang menganut madzhab Imam Syafi'i. Ya, cerita ini memang datang dari sosok yang kelak akan menjadi Ulama' besar seantero jagat, Imam Syafi'i.

Sebuah penggalan cerita yang mengingatkan kita akan pentingnya arti kejujuran dalam melakukan sesuatu dan betapa Allah Ta'ala memang akan melindungi hamba-hambaNya yang memegah teguh kebaikan, di akhir cerita nanti akan penulis utarakan makna yang sebenarnya.

Kisah Imam Syafi'i
Kisah Imam Syafi'i dengan segerombolan perampok (sumber gambar:kalam-ulama.com)
Kisah ini berawal ketika Imam Syafi'i mempunyai keinginan yang kuat sekali untuk menimba ilmu di Kota Madinah, tepatnya pada seorang Guru besar, Imam Malik,  yang konon kepintaran beliau sudah diramalkan oleh Nabi Muhammad SAW jauh sebelum era kehidupan beliau.

Keinginan Imam Syafi'i tersebut muncul ketika beliau masih berusia sangat belia, tepatnya ketika Imam Syafi'i kecil usai berkebun bersama ibunya. Sepulang dari kebun tersebut tiba-tiba Imam Syafi'i kecil memohon kepada ibunya untuk diberikan izin menimba ilmu di negeri Madinah, negeri yang jauh dari tempat tinggalnya.

Sang ibu yang memang sudah bisa membaca kelebihan yang dimiliki anaknya awalnya sempat tidak ingin anaknya pergi kemana-mana terlebih lagi tempat tujuan yang diinginkan Imam Syafi'i kecil tergolong sangat jauh untuk ukuran anak seusianya. Akan tetapi lantaran sebab Imam Syafi'i kecil begitu ngotot ingin tetap belajar, akhirnya sang ibu pun mengijinkannya.

Dengan satu syarat, bahwa Imam Syafi'i kecil harus tetap berkata jujur apapun yang terjadi dan dalam situasi yang bagaimanapun. 

"Baiklah, tapi ibu juga mempunyai permintaan padamu wahai anakku", 
"Apa itu ibu?"
"Kamu harus berjanji pada ibu untuk akan selalu berkata jujur dan tidak berdusta pada dirimu sendiri, pada orang lain dan juga kepada Tuhanmu"

Seperti layaknya anak kecil lainnya yang memang polos, permintaan tersebut mungkin adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan, "Baiklah ibu, aku berjanji padamu dan aku juga berjanji pada Allah Ta'ala untuk tidak akan pernah bersuta sekalipun aku dalam keadaan sendiri atau di keramaian". Mendengar jawaban dari Imam Syafi'i kecil, akhirnya sang ibu tersenyum dan dengan hati yang ikhlas melepas kepergian anaknya yang tercinta.

Sebelum Imam Syafi'i kecil berangkat, sang ibu juga ikut mempersiapkan segala bekal dan juga persiapan lainnya. Ibu Imam Syafi'i kecil juga sempat membuat sebuah saku rahasia yang nantinya bisa digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga seperti uang. Tempatnya ada di baju bagian dalam, di bawah ketiak.

Setelah semuanya siap, sang ibu memberitahu kepada Imam Syafi'i kecil tentang hal itu dan Imam Syafi'i kecil diberikan uang sebanyak 400 dirham dan menyuruh Imam Syafi'i kecil menyimpan uang tersebut di saku rahasia tadi.

Akhirnya Imam Syafi'i kecil berangkat bersama rombongan yang saat itu juga akan berangkat ke Madinah menaiki kuda. 

Saat itu, memang sudah bukan rahasia lagi jika akan selalu ada penjahat-penjahat dengan hati busuk yang selalu merampas harta orang-orang musafir tak terkecuali rombongan yang diikuti Imam Syafi'i kecil. Oleh sebab itulah setiap orang yang akan melakukan perjalanan sudah menyiapkan diri untuk mengatakan hal yang bisa menyelamatkan harta-harta mereka dari jarahan para penjahat. Tak ayal, kejadian yang memang sudah bisa diprediksi sebelumnya benar-benar terjadi, sekelompok perampok dengan kuda-kuda yang besar menghambat perjalanan rombongan Imam Syafi'i kecil.

Perjalanan mereka dihentikan dan tanpa panjang lebar satu-persatu dari rombongan tersebut ditanyai dan harta-harta yang berharga termasuk uang juga dirampas.

Ketika tiba giliran Imam Syafi'i kecil, salah satu anggota perampok tersebut tetap bertanya, "Apa kau mempunyai harta berharga?" 

Dalam situasi yang seperti itu mungkin kepolosan anak kecil yang selalu jujur bisa saja berubah seketika menjadi keberanian untuk berkata yang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Namun ternyata tidak bagi Imam Syafi'i kecil, beliau tetap mengatakan yang sebenarnya sesuai janjinya pada ibu dan pada Tuhannya.

"Ya, aku memiliki uang sebanyak 400 dirham yang ada di dalam saku di bawah ketiakku". Mendengar jawaban Imam Syafi'i kecil yang dengan tenang mengatakannya itu, anggota perampok tersebut hanya nyengir dan menganggap semua itu hanyalah kekonyolan anak kecil semata, lantas pergi begitu saja untuk menggeledah anggota rombongan lainnya.

Setelah semua selesai, ketua dari perampok tersebut memastikan kepada anggotanya dengan bertanya, "Pastikan kalian tidak meninggalkan suatu apapun sebelum kita pergi", salah satu anggota yang tadi bertanya kepada Imam Syafi'i kecil menjawab, "Semua sudah beres, kecuali kami hanya meninggalkan seorang anak kecil yang mengaku membawa uang 400 dirham", sontak pernyataan itu membuat semua anggota tertawa.

Namun ternyata respond dari ketua perampok tersebut lain lagi

Dia menyuruh anggotanya untuk memanggil anak itu, setelah Imam Syafi'i kecil kecil berada di depan ketua perampok, dia kembali ditanyai, "Apa harta yang kau bawa?", Imam Syafi'i kecil benar-benar memegang janjinya pada ibunya dengan memberikan jawaban yang sama, "Aku memiliki uang sebanyak 400 dirham yang ada di dalam saku di bawah ketiakku", sambil mengangkat ketiak tempat uang tersebut disimpan.

Ketua perampok itu ingin memastikan kebenaran dari perkataan Imam Syafi'i kecil dengan menyuruh mengeluarkan uang tersebut. Imam Syafi'i kecil menurutinya dan memberikan uang tersebut kepada ketua perampok.

Saat itu, suasana tiba-tiba begitu sunyi tanpa ada sepatah katapun yang terucap, mereka hanya membiarkan angin terus bersenandung melantunkan pujian-pujian kepada Tuhan Pencipta Alam, Allah Ta'ala.

Untuk beberapa saat lamanya, ketua perampok itu hanya memandang Imam Syafi'i kecil tanpa satu kedipan mata, hingga tanpa sadar telah membuatnya mengeluarkan air mata. Entah apa yang dipikirkannya, tidak seorangpun disitu yang tahu, hanya dia dan Allah Ta'ala yang tahu.

Suasana yang tadinya sunyi, kini pecah dengan pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari mulut ketua perampok itu, "Mengapa kamu berkata jujur padahal kamu tahu bahwa uangmu ini akan hilang dari tanganmu?", "Aku sudah berjanji pada ibuku dan juga pada Tuhanku untuk selalu berkata jujur pada siapapun dan dalam keadaan apapun".

Ketua permapok itu kembali tertegun sejenak, dan diamnya kali ini berbeda dengan sebelumnya. Ada sesuatu yang meresap dengan sangat lembut ke dalam hatinya. Saking lembutnya, dia yang tadi hanya menitikkan air mata sekarang pecah menjadi isak tangisan kecil.

"Engkau hanyalah anak kecil tapi kau sanggup memegang janjimu pada ibu dan Tuhanmu sedangkan aku tidak pernah memiliki ketakutan sedikitpun mengingkari janjiku pada Tuhan. Ini...ambillah uangmu kembali dan sekarang pergilan dengan aman dan tenang. Karena sekarang aku telah bertaubat kepada Allah Ta'ala melalui kedua tanganmu yang bersih dan aku sungguh berjanji tidak akan pernah melakukan hal ini lagi selama-lamanya. Aku pun juga akan berjanji dan memastikan bahwa semua anggotaku akan mengikuti jalanku, di jalan yang benar"

Selain karena hidayah Allah Ta'ala, jalan taubat yang telah dipilih oleh ketua perampok tersebut juga dilandasi karena dia merasa kalah telak hanya oleh seorang anak kecil dan dia pun juga merasa sangat malu pada dirinya sendiri dan juga pada Tuhannya.

Setelah itu, pergilah Imam Syafi'i kecil untuk meneruskan perjalananya ke Madinah untuk bertemu sang Guru, Imam Malik yang juga sudah merasakan kedatangan seseorang yang nantinya akan menjaga dan meneruskan ilmu beliau. Bahkan Imam Malik juga sudah merasa bahwa dalam diri Imam Syafi'i lah nanti akan muncul ilmu baru yang seimbang.

Makna dari kisah Imam Syafi'i kecil itu adalah akan selalu ada hikmah dengan kita melakukan kejujuran dan memegang janji-janji sekalipun kejujuran itu terkadang menyakitkan. Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala Maha Kuasa atas segalanya dan DIA Maha Tahu Mana yang terbaik bagi hamba-Nya.

Ingin pintu rezeki terbuka lebar? Amalkan 7 Dzikir ringan ini

Setiap orang di dunia ini pasti menginginkan agar rezeki mereka lancar dan terus mengalir tanpa henti, keinginan  tersebut sepertinya memang agak lancang,  akan tetapi itu hal yang wajar karena kita manusia. Dalam diri manusia memang terdapat unsur hewani yang mempunyai sifat rakus.

amalan dzikir untuk melancarkan rezeki
amalan dzikir untuk melancarkan rezeki (sumber gambar:Unik.web.id)

Sayangnya, keinginan untuk bisa cepat kaya, cepat mendapatkan rezeki yang banyak itu seringkali tidak dibarengi dengan ibadah yang mumpuni atau justru ada sebagian orang yang ingin mencari jalan pintas dengan cara mencari pesugihan, tanpa berpikir bahwa hal tersebut termasuk perbuatan yang musyrik.

Ikhtiar sudah pasti harus kita lakukan, selain itu juga berdo'a, dan ibadah tetap harus jalan.

Semakin dekat seseorang dengan Tuhan, maka Tuhan juga akan semakin memperhatikan hamba-Nya dan akan selalu mendengar segala permintaan mereka.

Berikut ini ada beberapa amalan dzikir yang bisa membantu seseorang untuk membuka pintu rezeki menjadi lebih terbuka. Penasaran? Baca terus ya.

Pertama, perbanyaklah membaca kalimat Laa Haula Walaa Quawwata Illa Billahil 'aliyyil 'adziim

Bacalah dzikir ini rutin setiap kali kita selesai shalat fardlu sebanyak 7 kali. Tidak usah tergesa-gesa dalam membacanya, amalkan dan resapi juga makna yang terkandung di dalam kalimat tersebut. Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, "Barangsiapa yang lambat rezekinya, maka hendaklah ia memperbanyak membaca Laa haula walaa quwwata illaa billah setelah menunaikan shalat".

Kedua, Setelah menjalankan shalat dluha hendaknya ia membaca kalimat "Laa illaaha illallahul Malikul Haqqul Mubbiin"

Imam Abu Nu'aim dan Imam Ad Dailami pernah meriwayatkan, "Barangsiapa yang ingin dirinya aman dari kefakiran (kemiskinan) hendaklah ia mengamalkan (membaca) kaliamat Laa illaaha illallahul Malikul Haqqul Mubbiin setelah shalat dluha. Hatinya akan merasa tentram dan jauh dari ketakutan di alam kubur".

Ketiga, bacaan dzikir "Subhaanallahu wa bihamdihi Subhaanallahil 'adzim" setiap hari

Jika kita adalah seorang pegawai atau karyawan, maka bacalah kalimat ini sebelum kita berangkat kerja sebanyak 11 kali. Selain itu, dzikir ini juga memiliki manfaat lainnya. Setiap Malaikat yang selalu berdzikir kepada Allah Ta'ala hingga hari kiamat, maka pahala tersebut akan dilimpahkan kepada kita semua, diambil dari riwayat Imam Al Mustaghfiri.

Keempat, perbanyaklah membaca surat Al-Ikhlas

Ini sudah bukan rahasia lagi, akan tetapi jarang sekali orang yang bisa konsisten melakukannya. Padahal surat ini memiliki banyak sekali manfaat, termasuk salah satunya adalah bisa membukakan pintu rezeki yang tanpa disangka-sangka.

Bacalah surat Ikhlas sebanyak mungkin setiap harinya, minimal 11 kali setiap habis menjalankan shalat fardlu.

Kelima, rutinlah membaca surat Al Waqi'ah setiap habis menjalankan shalat shubuh 1 kali (lebih dari satu kali akan lebih baik)

Khasiat utama mengamalkan surat al Waqi'ah memang agar rezeki seseorang bisa lebih lancar lagi, Siti Aisyah RA pernah meriwayatkan "Barangsiapa yang ingin rezekinya dilapangkan oleh Allah Ta'ala maka hendaklah memperbanyak membaca surat Al Waqi'ah".

Imam Al-Baihaqi juga pernah meriwayatkan, "Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi'ah maka orang itu akan dijauhkan dari kesempitan hidup".

Keenam, Bacalah shalawat Nabi setiap kali setelah menjalankan shalat fardlu

Memperbanyak bacaan shalawat, selain bisa membuat hati menjadi tenang dan hangat, shalawat Nabi Muhammad SAW juga bisa membantu seseorang yang sedang dalam kesulitan hidup terutama soal keuangan.

Ada banyak ekali jenis shalawat Nabi, kita tinggal memilihnya. Namun dalam perkara rezeki, shalat Nariyah akan menghasilkan efek yang besar dalam hal mengatasi kesulitan mencari rezeki.

Yang terakhir, perbanyaklah membaca istighfar dengan meresapi makna dan maksudnya

Inilah bisa dikatakan dzikir paling mudah untuk diamalkan. Saya katakan paling mudah sebab setiap orang pasti sudah hafal dengan dzikir yang satu ini. Hanya saja mungkin kita kurang mengamalkannya.

Untuk membuka pintu rezeki, amalkanlah dzikir ini setiap saat dan dimanapun anda berada, bisa di lisankan bisa juga diucapkan di dalam hati. Dengan terus memohon ampunan kepada Allah Ta'ala maka segala keinginan kita termasuk keinginan mendapatkan rezeki yang melimpah akan dimudahkan.

Itulah ketujuh amalan dzikir yang ringan yang bisa kita amalkan setiap harinya. Semua dzikir yang ada diatas sudah pasti akan mudah sekali untuk dihafalkan, kecuali untuk surat al Waqi'ah, mungkin kita harus membacanya.

Agar apa yang kita dapatkan lebih berbarakah dan bermanfaat lagi untuk masa depan kita, mari kita bagikan artikel ini agar teman-teman, sahabat atau saudara kita juga mengetahuinya dan ikut mengamalkannya, semoga Allah Ta'ala memudahkan segala urusan kita. Aamiin.

Syarat-syarat melaksanakan shalat Qashar dan Jama'

Ada saatnya ketika seseorang bepergian dengan menggunakan kendaraan umum, seringkali terbentur dengan waktu shalat. Dan banyak juga diantara mereka yang mengalami hal itu juga sering kebingungan bagaimana harus melaksanakan shalat. Ada yang mengatasi hal tersebut dengan cara menunaikan shalat di dalam kendaraan dengan menyucikan diri menggunakan tayamum.


syarat shalat Qashar dan Jama'
syarat shalat Qashar dan Jama' (sumber gambar:duniaislam.co.vu)

Sebenarnya, Islam mempermudahnya dengan cara melakukan qashar atau jama' ketika kita sedang menghadapi masalah-masalah seperti itu.

Lebih lanjut mari kita bahas apa itu shalat qashar dan apa itu shalat jama', dan apa saja syarat-syaratnya.

Shalat Qashar adalah memperpendek jumlah rakaat shalat yang jumlahnya 4 rakaat, maka di sini shalat 5 waktu yang boleh di qashar adalah shalat dluhur, shalat ashar dan Isya. Sedangkan shalat jama' adalah menggabungkan atau mengumpulkan jumlah shalat, Di sini yang boleh di jama' shalatnya adalah shalat dluhur dengan shalat ashar dan shalat maghrib dengan shalat isya.

Sekarang apa saja syarat-syarat kita bisa melakukan shalat qashar dan shalat jama'?

Syarat shalat qashar

Syarat shalat qashar (meng-qashar shalat) itu ada 5 syarat:
1. Hendaklah kepergian seseorang itu bukan dalam rangka melakukan maksiat. Jadi kepergian seseorang di sini mencakup kepergian yang sifatnya wajib, seperti contohnya pergi untuk membayar hutang, serta kepergian yang sifatnya sunnah seperti contohnya pergi untuk bersilaturrahmi. Selain kepergian yang sifatnya wajib dan sunnah tersebut diatas, kepergian yang sifatnya mubah juga diperbolehkan untuk melakukan shalat qashar, contohyna pergi untuk melakukan perdagangan (perdangan yang halal). 

2. Jarak kepergiannya tersebut minimal 16 farsah, tidak boleh kurang sedikitpun. Hal itu menurut pendapat yang shahih. Sedangkan jarak kembalinya tersebut tidak termasuk dalam hitungan 16 farsah, jadi hitungan minimal jarak 16 farsah tersebut hanya untuk 1 kali jalan saja. 

Jika dihitung dalam satuan kilometer,  1 farsakh sama dengan 5541 meter (sekitar 1 mil), jadi untuk 16 Farsakh sama dengan 88,656 km.

3. Orang yang mengerjakan shalat qashar tersebut shalatnya harus shalat "ada", maksudnya orang tersebut tidak sedang meng-qadla shalat. Jadi, jika shalat orang tersebut tertinggal (belum sempat dikerjkan di rumah) dan waktu shalat tersebut sudah habis sedangkan shalat tersebut jumlah rakaatnya juga ada 4, maka shalat tersebut tidak bisa di qashar.

Akan tetapi jika shalat yang tertinggal tersebut terjadi ketika orang tersebut sudah berada di perjalanan makan shalat tersebut boleh di qashar ketika dalam perjalanan itu juga. Namun shalat yang tertinggal ketika berada di perjalanan tersebu tidak boleh di qashar ketika orang tersebut sudah tiba di rumah.

4. Orang yang mengerjakan shalat qashar harus niat meng-qashar bersamaan ketika orang tersebut melakukan takbiratul ihram ketika hendak melakukan shalat.

5. Orang yang mengerjakan shalat qashar itu tidak boleh makmum kepada orang yang mengerjakan shalat secara sempurna (tidak sedang mengerjakan shalat qashar/meng-qashar shalatnya). 

Itulah kelima syarat untuk seseorang bisa meng-qashar shalatnya ketika sedang bepergian jauh.

Sedangkan untuk shalat jama', diperbolehkan bagi seseorang yang sedang bepergian sekalipun orang tersebut mempunyai niat bepergian yang sifatnya mubah (berdagang) untuk mengumpulkan shalatnya. Seperti yang sudah dijelaskan sedikit diatas tadi bahwa shalat fardlu yang bisa di jama' adalah shalat dluhur dengan shalat ashar, maghrib dengan isya.

Shalat jama' dibagi menjadi dua bagian yaitu jama' taqdim dan jama' ta'khir. Jama' taqdim adalah mengumpulkan shalat dluhur dan ashar pada waktu shalat dluhur, sedangkan jama' ta'khir adalah mengumpulkan shalat dluhur dan ashar pada waktu shalat ashar.

Penjelasannya begini...

Ketika seseorang hendak melakukan perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum yang sekiranya orang tersebut tidak akan bisa mengerjakan shalat ashar atau ketika tiba di tempat tujuan kira-kira waktu shalat ashar sudah habis, maka orang itu boleh mengumpulkan shalat dluhur dan ashar sebelum melakukan perjalanan pada waktu shalat dluhur.

Atau, jika orang tersebut hendak melakukan perjalanan akan tetapi belum waktunya masuk shalat dluhur, dan ketika orang itu tiba di tempat tujuan masih bisa melakukan shalat ashar maka orang tersebut boleh mengumpulkan shalat dluhur dan ashar tersebut di waktu ashar (ketika sudah tiba di tempat tujuan).

Lebih jelasnya lagi, berikut ini adalah syarat-syarat shalat jama' taqdim (waktu dluhur).

Syarat melaksanakan jama' taqdim:
1. Harus niat shalat jama' pada permulaan shalat yang pertama.
2. Muwalah (susul-menyusul dengan segera) antara mengerjakan shalat yang pertama (dluhur 2 rakaat) dengan shalat yang kedua (ashar 2 rakaat). Rentan waktu antara shalat yang pertama dengan shalat yang kedua tidak boleh lama, ketika baru saja selesai salam pada shalat yang pertama hendaklah orang tersebut langsung mengerjakan shalat yang kedua.

Adapun syarat-syarat mengerjakan jama' ta'khir adalah:

Hendaklah orang tersebut sudah berniat untuk menjama' shalat sebelum takbiratul ihram, sedangkan ketika takbratul ihram pada shalat yang pertama orang tersebut juga harus niat menjama' shalat.
Bedanya dengan jama' taqdim, jama' ta'khir ini antara shalat yang pertama dengan shalat yang terakhir diperbolehkan adanya rentan waktu dan tidak ada keharusan untuk muwalah (susul-menyusul/tertib).

Apa itu Ghasab? Dan Bagaimana Hukumnya?

Kata Ghasab berasal dari bahasa arab yang artinya mengambil sesuatu yang bukan miliknya secara aniaya (tidak baik, tidak meminta ijin terlebih dahulu) dan secara terang-terangan atau tidak sembunyi-sembunyi.


hukum ghasab
hukum ghasab (sumber gambar: samakarim.wordpress.com)

Ghasab juga bisa berarti menguasai hak-hak orang lain dengan cara yang tidak benar (secara aniaya) walalupun mempunyai niat akan mengembalikannya kembali. Hal ini bisa berarti pada sebuah kebiasaan, seperti contohnya kebiasaan meminjam sandal atau sepatu tanpa meminta ijin kepada pemiliknya terlebih dahulu.

Di kalangan pesantren hal seperti ini memang seringkali terjadi, dari pada harus repot-repot mengeluarkan sandalnya sendiri terkadang para santri lebih memilih untuk memakai sandal yang sudah ada di luar dengan niatan akan dikembalikan lagi ke tempat asalnya.

Kebiasaan seperti ini sebenarnya akan berujung buruk pada santri itu sendiri.

Yang bisa dikatakan ghasab disini adalah memakai hak orang lain atau meminjam sesuatu milik orang lain selain uang dengan cara terang-terangan tanpa sembunyi-sembunyi.

Jelas, jika hal itu dilakukan dengan sembunyi-sembunyi berarti orang tersebut sudah bisa dipastikan memiliki niat beda lagi dan pasti tidak ada maksud untuk mengembalikannya alias mencuri.

Lantas bagaimana hukum ghasab?

Ghasab masuk dalam hukum makruh yang berat. Dikatakan berat sebab orang yang meminjam barang tersebut wajib mengembalikan barang yang ia pakai di tempat semula dan kondisinya harus dalam keadaan yang sama utuh, tanpa berkurang suatu apapun.

Bahkan, ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa orang yang melakukan ghasab tersebut dikenakan tanggungan atau harus menggantinya dengan berlipat ganda. Pendapat ini sebenarnya memang benar.

Dan wajib bagi orang yang melakukan ghasab untuk menambal kekurangan jika ada sesuatu yang terjadi pada barang yang ia pinjam tersebut.

Seperti misalkan, ketika ada orang yang meminjam sandal dan sandala tesebut tergores sesuatu yang mengakibatkan berubahnya bentuk sandal. Atau mungkin sandal tersebut mendapatkan luka bakar, maka orang yang meminjam itu harus memperbaikinya hingga utuh kembali seperti semula atau menggantinya dengan sesuatu yang sama dan dalam keadaan yang utuh.

Dan wajib bagi orang yang meng-ghasab tersebut mengganti biaya yang sepadan jika memang terjadi kerusakan atau kekurangan pada barang  yang sudah ia pinjam. Ini menurut pendapat yang shahih.

Sebagian ulama juga berpendapat bahwa orang yang melakukan ghasab maka wajib baginya dipaksa untuk mengembalikannya.

Dari sini mungkin sudah semakin jelas bahwa hukum meng-ghasab tersebut makruh dan porsinya sangat berat. Jika dikatakan secara gamblang, maka hukumnya mendekati haram.

Dihukumi seperti itu sebab dikhawatirkan ketika barang tersebut merupakan barang yang penting bagi si pemilik, dan jika saja terjadi sesuatu dan sulit sekali mendapatkannya maka itu artinya pasti akan membaut si pemilik tidak terima.

Perasaan tidak terima inilah yang mahal sekali harganya. 

Maka dari itu, jika memang tidak bisa ditemukan lagi pengganti barang yang sudah rusak, maka orang yang ghasab tersebut wajib menggantinya dengan biaya yang sepadan. Bicara biaya yang sepadan, itu juga berlaku ketentuan ketika barang tersebut memiliki harga yang berbeda lagi dari sebelumnya atau lebih mahal, maka si tukang ghasab wajib mengganti biaya menurut harga yang berlaku saat itu.

Jika si pemilik dulu membeli sandal dengan harga 10.000 dan setelah beberapa waktu lamanya harga sandal menjadi naik, maka pihak peminjam (orang yang ghasab harus menyesuaikan harga yang terakhir).

Tidak dianjurkannya untuk ghasab juga beralasan dan alasan itu pasti baik untuk kita sendiri.

Apa? Kebiasaan ghasab cenderung membentuk kebiasaan seseorang menjadi lebih buruk. Justru ada juga beberapa orang yang awalnya memiliki kebiasaan ghasab lambat laun menjadi kebiasaan mencuri, mengakui hak milik, dan lain sebagainya.

Ghasab baru diperbolehkan jika memang seseorang dalam keadaan yang sangat penting sekali dan mendesak. Jika memang tidak sempat untuk berbuat sesuatu misalkan memakai barang milik kita sendiri maka diperbolehkan untuk memakai barang milik orang lain tanpa adanya akad terlebih dahulu.

Asalkan dengan satu syarat yaitu tetap bermaksud untuk mengembalikannya.
Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.