Hari bersejarah sebagai pemisah jaman jahiliyah dengan jaman penuh cahaya ke-Islaman

Ke dalam gua hira beliau pergi menyisihkan dirinya, memutuskan hubungan sementara waktu dengan masyarakat sekeliling, mencari kebersihan rohani dan memohon diberikan ketentuan jalan yang akan ditempuh, pada setiap bulan Ramadlan selama bertahun-tahun sebelum beliau ditetapkan sebagai Rasul.

gua hira
Gua hira sebagai tempat bersejarah terjadinya Yaumul Furqaan (sumber gambar:jilbabflowidea.com)

Di sanalah beliau melepaskan jiwa dari pada ikatan kemewahan dunia, keributan dan kerepotan hidup. Dibawanya sedikit bekal dan selebihnya perhatiannya dihadapkannya kepada Ujud semesta. Memandang dan merenung dengan mata hati ke seluruh bekas kekuatan dan perbuatan Ilahi. Maka tidakah terganggu kemurnian jiwa itu oleh huru-hara dunia dan pengaruh maddi.

Bila bulan ramadlan telah habis, beliau turun ke bawah dan bertambah kuatlah pendirian dan sikap jiwanya. Menurutlah badan jasmani kepada kebesihan rohani.

Dan ketika bulan Ramadlan datang kembali, naik pulalah beliau ke Gua itu lagi. Puncak dari Gua itu di tandai oleh batu putih, kira-kira butuh waktu sekitar 1 jam untuk bisa mencapai kaki bukitnya saja. Sedangkan untuk bisa mencapai puncaknya kira-kira butuh waktu sekitar 2 jam lagi, tempat bersejarah itu.

Di tempat terpencil itu, di atas bukit itu. Kian lama kian adalah ketentuan perjalanan jiwa dan membukakan hijab yang menutupi perhubungan ruhani dengan alam ghaib. Hijab teresebut tak lain adalah tubuh kasar yang maddi ini. Hilanglah keraguan, datanglah keyakinan, dan dapatlah dipersisihkan antara perkara yang haq dengan yang bathil, yang benar dan yang salah, yang terang dan yang gelap.

Akhirnya datanglah Nur yang ditunggu-tunggu itu, merupalah Malaikat dii hadapan mata beliau. Dia adalah malaikat Jibril, yang kadang-kadang disebut sebagai Ruhul Amin, dan kadang-kadang juga disebut sebagai Namus. Datang menyuruh beliau membaca, tapi pada saat itu beiau belum pandai membaca. Dipeluknya badan beliau seerat mungkin hingga keluar keringat setengah pingsan. Dan akhirnya diajarkanlah kalimat itu. Sebuah inti-sari dari ajaran yang akan dibawa dan disiarkannya di kemudian hari nanti. Dan dilihatlah oleh beliau di langit sebuah tulisan : “Tiada Tuhan kecuali Allah, dan Muhammad adalah pesuruh Allah”.

Hari itu dinamakan “Yaumul Furqaan”, artinya adalah hari pemisah

Pemisahan antara kegelapan jahiliyah dengan cahaya ke-Islaman. Pada saat itu jatuh tepat pada tanggal 17 Ramadlan. Setelah Muhammad turun ke Mekkah, ikhwal itu disampaikannya kepada istrinya Khadijah. Oleh Khadijah, dibawakan Muhammad kepada pamannya, seorang alim yang mengetahui kitab-kitab dan riwayat Nabi-Nabi yang terdahulu, yaitu Warakah bin Naufal. Beiau berkata, “Itulah Namus! Yang datang kepada Musa dan Nabi yang lain”.
 
Namus itulah yang datang kepada Musa di bukit Thursina ketika Musa bertapa selama 40 hari lamanya meminta ketegasan Hukum Taurat. Namus itulah yang merupa dihadapan Maryam ketika beliau dititahkan untuk mengandung putranya Isa Almasih diluar dari kebiasaan alam.

Namus itulah yang merupa kepada Isa setelah beliau selesai dimandikan oleh Yahya.

Itulah permulaan hidup baru bagi Muhammad. Dan itulah juga permulaan dan bangkitnya suatu ummat dalam sejarah, dari Gua Hira, dari kesepian samadi dan tapa. Kehidupan Muhammad dan riwayat perjuangan beliau adalah sumber hayat yang amat kaya bagi seluruh pengikutnya.

Beliau dapat dipandang dari segala sisi hidup, kejujurannya dalam berniaga (sebelum beliau menjadi Rasul), menjadii suri tauladan bagi kaum saudagar.

Keikhlasan dan keteguhannya memegang amanat, sehingga sanggup dijadikan hakim dalam suatu persengketaan yang nyaris menimbulkan pertumpahan darah, seperti contohnya ketika 4 orang hendak berebut mengembalikan batu hitam ke tempatnya. Menjadi suri tauladan bagi pendamai, kasih sayangnya dalam rumah tangga sebagai seorang suami dan seorang ayah, menjadi suri tauladan bagi pembangun rumah tangga.

Keberaniannya dalam peperangan, kebijaksanaannya dalam memerintah negeri dan keahliannya berpidato, serta 1001 macam keutamaan yang lainnya, semuanya adalah sumber telaga yang tak habis-habisnya bagi ummatnya yang setia. Maka kaum shufiyah yang mensucikan dirinya dalam khalawatnya itupun mengambil contoh teladan atas amal-amal mereka dalam khalawat suluk dan thariqat serta sistem-sistem lainnya seperti khalawat dan tahhannust Nabi Muhammad SAW di Gua Hira, sampai terbuka hijab ke-ghaib-an oleh kemurnian jiwa.

Menurut penyelidikan ahli-ahli kebatinan yang telah tua-tua, baik dari segi rahasia ghaib atau dari segi kecerdasan otak dalam berfikir (filsafat), semuanya sependapat bahwa untuk menjernihakn pandangan jiwa rohani hendaklah mengurangi makan. Terlalu banyak makan menimbulkan kantuk dan perut buncit dan berat badan. Hawa yang naik ke otak, menyebabkan otak tidak bekerja lagi, sebab itulah semua sependapat, bahwa untuk itu perlu dikurangi makan.

Nabi Muhammad SAW ketika pergi berkhalawat hanyalah dengan sedikit persediaan makanan dan sedikit sekali air. Shufi-pun sengaja mengurangi makan apabila mereka berkhalwat.

Dengan melalui banyak cara dan sistem, yang kadang-kadang tidak bertemu dalam pelajaran fiqh, melainkan hanya dari pengalaman-pengalaman seorang guru yang kemudian dibisikkan kepada muridnya, berkat rasa yakin, mereka akhirnya menemukan suatu jalan dalam menuju keindahan dan kemurnian hidup kerohanian. Mereka mulai mengambil contohnya dari keadaan yang ditempuh Nabi Muhammad SAW dan yang telah menjadi permulaan dari sejarah besar yang menggoncangkan alam semesta.

Kisah bersejarah Imam Syafi'i kecil VS gerombolan perampok, inilah makna sebenarnya

Kisah ini memang sudah tidak asing lagi di telinga kita semua, khususnya bag iorang-orang muslim yang menganut madzhab Imam Syafi'i. Ya, cerita ini memang datang dari sosok yang kelak akan menjadi Ulama' besar seantero jagat, Imam Syafi'i.

Sebuah penggalan cerita yang mengingatkan kita akan pentingnya arti kejujuran dalam melakukan sesuatu dan betapa Allah Ta'ala memang akan melindungi hamba-hambaNya yang memegah teguh kebaikan, di akhir cerita nanti akan penulis utarakan makna yang sebenarnya.

Kisah Imam Syafi'i
Kisah Imam Syafi'i dengan segerombolan perampok (sumber gambar:kalam-ulama.com)
Kisah ini berawal ketika Imam Syafi'i mempunyai keinginan yang kuat sekali untuk menimba ilmu di Kota Madinah, tepatnya pada seorang Guru besar, Imam Malik,  yang konon kepintaran beliau sudah diramalkan oleh Nabi Muhammad SAW jauh sebelum era kehidupan beliau.

Keinginan Imam Syafi'i tersebut muncul ketika beliau masih berusia sangat belia, tepatnya ketika Imam Syafi'i kecil usai berkebun bersama ibunya. Sepulang dari kebun tersebut tiba-tiba Imam Syafi'i kecil memohon kepada ibunya untuk diberikan izin menimba ilmu di negeri Madinah, negeri yang jauh dari tempat tinggalnya.

Sang ibu yang memang sudah bisa membaca kelebihan yang dimiliki anaknya awalnya sempat tidak ingin anaknya pergi kemana-mana terlebih lagi tempat tujuan yang diinginkan Imam Syafi'i kecil tergolong sangat jauh untuk ukuran anak seusianya. Akan tetapi lantaran sebab Imam Syafi'i kecil begitu ngotot ingin tetap belajar, akhirnya sang ibu pun mengijinkannya.

Dengan satu syarat, bahwa Imam Syafi'i kecil harus tetap berkata jujur apapun yang terjadi dan dalam situasi yang bagaimanapun. 

"Baiklah, tapi ibu juga mempunyai permintaan padamu wahai anakku", 
"Apa itu ibu?"
"Kamu harus berjanji pada ibu untuk akan selalu berkata jujur dan tidak berdusta pada dirimu sendiri, pada orang lain dan juga kepada Tuhanmu"

Seperti layaknya anak kecil lainnya yang memang polos, permintaan tersebut mungkin adalah hal yang sangat mudah untuk dilakukan, "Baiklah ibu, aku berjanji padamu dan aku juga berjanji pada Allah Ta'ala untuk tidak akan pernah bersuta sekalipun aku dalam keadaan sendiri atau di keramaian". Mendengar jawaban dari Imam Syafi'i kecil, akhirnya sang ibu tersenyum dan dengan hati yang ikhlas melepas kepergian anaknya yang tercinta.

Sebelum Imam Syafi'i kecil berangkat, sang ibu juga ikut mempersiapkan segala bekal dan juga persiapan lainnya. Ibu Imam Syafi'i kecil juga sempat membuat sebuah saku rahasia yang nantinya bisa digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga seperti uang. Tempatnya ada di baju bagian dalam, di bawah ketiak.

Setelah semuanya siap, sang ibu memberitahu kepada Imam Syafi'i kecil tentang hal itu dan Imam Syafi'i kecil diberikan uang sebanyak 400 dirham dan menyuruh Imam Syafi'i kecil menyimpan uang tersebut di saku rahasia tadi.

Akhirnya Imam Syafi'i kecil berangkat bersama rombongan yang saat itu juga akan berangkat ke Madinah menaiki kuda. 

Saat itu, memang sudah bukan rahasia lagi jika akan selalu ada penjahat-penjahat dengan hati busuk yang selalu merampas harta orang-orang musafir tak terkecuali rombongan yang diikuti Imam Syafi'i kecil. Oleh sebab itulah setiap orang yang akan melakukan perjalanan sudah menyiapkan diri untuk mengatakan hal yang bisa menyelamatkan harta-harta mereka dari jarahan para penjahat. Tak ayal, kejadian yang memang sudah bisa diprediksi sebelumnya benar-benar terjadi, sekelompok perampok dengan kuda-kuda yang besar menghambat perjalanan rombongan Imam Syafi'i kecil.

Perjalanan mereka dihentikan dan tanpa panjang lebar satu-persatu dari rombongan tersebut ditanyai dan harta-harta yang berharga termasuk uang juga dirampas.

Ketika tiba giliran Imam Syafi'i kecil, salah satu anggota perampok tersebut tetap bertanya, "Apa kau mempunyai harta berharga?" 

Dalam situasi yang seperti itu mungkin kepolosan anak kecil yang selalu jujur bisa saja berubah seketika menjadi keberanian untuk berkata yang tidak sesuai dengan kenyataannya.

Namun ternyata tidak bagi Imam Syafi'i kecil, beliau tetap mengatakan yang sebenarnya sesuai janjinya pada ibu dan pada Tuhannya.

"Ya, aku memiliki uang sebanyak 400 dirham yang ada di dalam saku di bawah ketiakku". Mendengar jawaban Imam Syafi'i kecil yang dengan tenang mengatakannya itu, anggota perampok tersebut hanya nyengir dan menganggap semua itu hanyalah kekonyolan anak kecil semata, lantas pergi begitu saja untuk menggeledah anggota rombongan lainnya.

Setelah semua selesai, ketua dari perampok tersebut memastikan kepada anggotanya dengan bertanya, "Pastikan kalian tidak meninggalkan suatu apapun sebelum kita pergi", salah satu anggota yang tadi bertanya kepada Imam Syafi'i kecil menjawab, "Semua sudah beres, kecuali kami hanya meninggalkan seorang anak kecil yang mengaku membawa uang 400 dirham", sontak pernyataan itu membuat semua anggota tertawa.

Namun ternyata respond dari ketua perampok tersebut lain lagi

Dia menyuruh anggotanya untuk memanggil anak itu, setelah Imam Syafi'i kecil kecil berada di depan ketua perampok, dia kembali ditanyai, "Apa harta yang kau bawa?", Imam Syafi'i kecil benar-benar memegang janjinya pada ibunya dengan memberikan jawaban yang sama, "Aku memiliki uang sebanyak 400 dirham yang ada di dalam saku di bawah ketiakku", sambil mengangkat ketiak tempat uang tersebut disimpan.

Ketua perampok itu ingin memastikan kebenaran dari perkataan Imam Syafi'i kecil dengan menyuruh mengeluarkan uang tersebut. Imam Syafi'i kecil menurutinya dan memberikan uang tersebut kepada ketua perampok.

Saat itu, suasana tiba-tiba begitu sunyi tanpa ada sepatah katapun yang terucap, mereka hanya membiarkan angin terus bersenandung melantunkan pujian-pujian kepada Tuhan Pencipta Alam, Allah Ta'ala.

Untuk beberapa saat lamanya, ketua perampok itu hanya memandang Imam Syafi'i kecil tanpa satu kedipan mata, hingga tanpa sadar telah membuatnya mengeluarkan air mata. Entah apa yang dipikirkannya, tidak seorangpun disitu yang tahu, hanya dia dan Allah Ta'ala yang tahu.

Suasana yang tadinya sunyi, kini pecah dengan pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari mulut ketua perampok itu, "Mengapa kamu berkata jujur padahal kamu tahu bahwa uangmu ini akan hilang dari tanganmu?", "Aku sudah berjanji pada ibuku dan juga pada Tuhanku untuk selalu berkata jujur pada siapapun dan dalam keadaan apapun".

Ketua permapok itu kembali tertegun sejenak, dan diamnya kali ini berbeda dengan sebelumnya. Ada sesuatu yang meresap dengan sangat lembut ke dalam hatinya. Saking lembutnya, dia yang tadi hanya menitikkan air mata sekarang pecah menjadi isak tangisan kecil.

"Engkau hanyalah anak kecil tapi kau sanggup memegang janjimu pada ibu dan Tuhanmu sedangkan aku tidak pernah memiliki ketakutan sedikitpun mengingkari janjiku pada Tuhan. Ini...ambillah uangmu kembali dan sekarang pergilan dengan aman dan tenang. Karena sekarang aku telah bertaubat kepada Allah Ta'ala melalui kedua tanganmu yang bersih dan aku sungguh berjanji tidak akan pernah melakukan hal ini lagi selama-lamanya. Aku pun juga akan berjanji dan memastikan bahwa semua anggotaku akan mengikuti jalanku, di jalan yang benar"

Selain karena hidayah Allah Ta'ala, jalan taubat yang telah dipilih oleh ketua perampok tersebut juga dilandasi karena dia merasa kalah telak hanya oleh seorang anak kecil dan dia pun juga merasa sangat malu pada dirinya sendiri dan juga pada Tuhannya.

Setelah itu, pergilah Imam Syafi'i kecil untuk meneruskan perjalananya ke Madinah untuk bertemu sang Guru, Imam Malik yang juga sudah merasakan kedatangan seseorang yang nantinya akan menjaga dan meneruskan ilmu beliau. Bahkan Imam Malik juga sudah merasa bahwa dalam diri Imam Syafi'i lah nanti akan muncul ilmu baru yang seimbang.

Makna dari kisah Imam Syafi'i kecil itu adalah akan selalu ada hikmah dengan kita melakukan kejujuran dan memegang janji-janji sekalipun kejujuran itu terkadang menyakitkan. Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala Maha Kuasa atas segalanya dan DIA Maha Tahu Mana yang terbaik bagi hamba-Nya.

Ingin pintu rezeki terbuka lebar? Amalkan 7 Dzikir ringan ini

Setiap orang di dunia ini pasti menginginkan agar rezeki mereka lancar dan terus mengalir tanpa henti, keinginan  tersebut sepertinya memang agak lancang,  akan tetapi itu hal yang wajar karena kita manusia. Dalam diri manusia memang terdapat unsur hewani yang mempunyai sifat rakus.

amalan dzikir untuk melancarkan rezeki
amalan dzikir untuk melancarkan rezeki (sumber gambar:Unik.web.id)

Sayangnya, keinginan untuk bisa cepat kaya, cepat mendapatkan rezeki yang banyak itu seringkali tidak dibarengi dengan ibadah yang mumpuni atau justru ada sebagian orang yang ingin mencari jalan pintas dengan cara mencari pesugihan, tanpa berpikir bahwa hal tersebut termasuk perbuatan yang musyrik.

Ikhtiar sudah pasti harus kita lakukan, selain itu juga berdo'a, dan ibadah tetap harus jalan.

Semakin dekat seseorang dengan Tuhan, maka Tuhan juga akan semakin memperhatikan hamba-Nya dan akan selalu mendengar segala permintaan mereka.

Berikut ini ada beberapa amalan dzikir yang bisa membantu seseorang untuk membuka pintu rezeki menjadi lebih terbuka. Penasaran? Baca terus ya.

Pertama, perbanyaklah membaca kalimat Laa Haula Walaa Quawwata Illa Billahil 'aliyyil 'adziim

Bacalah dzikir ini rutin setiap kali kita selesai shalat fardlu sebanyak 7 kali. Tidak usah tergesa-gesa dalam membacanya, amalkan dan resapi juga makna yang terkandung di dalam kalimat tersebut. Diriwayatkan oleh Imam Thabrani, "Barangsiapa yang lambat rezekinya, maka hendaklah ia memperbanyak membaca Laa haula walaa quwwata illaa billah setelah menunaikan shalat".

Kedua, Setelah menjalankan shalat dluha hendaknya ia membaca kalimat "Laa illaaha illallahul Malikul Haqqul Mubbiin"

Imam Abu Nu'aim dan Imam Ad Dailami pernah meriwayatkan, "Barangsiapa yang ingin dirinya aman dari kefakiran (kemiskinan) hendaklah ia mengamalkan (membaca) kaliamat Laa illaaha illallahul Malikul Haqqul Mubbiin setelah shalat dluha. Hatinya akan merasa tentram dan jauh dari ketakutan di alam kubur".

Ketiga, bacaan dzikir "Subhaanallahu wa bihamdihi Subhaanallahil 'adzim" setiap hari

Jika kita adalah seorang pegawai atau karyawan, maka bacalah kalimat ini sebelum kita berangkat kerja sebanyak 11 kali. Selain itu, dzikir ini juga memiliki manfaat lainnya. Setiap Malaikat yang selalu berdzikir kepada Allah Ta'ala hingga hari kiamat, maka pahala tersebut akan dilimpahkan kepada kita semua, diambil dari riwayat Imam Al Mustaghfiri.

Keempat, perbanyaklah membaca surat Al-Ikhlas

Ini sudah bukan rahasia lagi, akan tetapi jarang sekali orang yang bisa konsisten melakukannya. Padahal surat ini memiliki banyak sekali manfaat, termasuk salah satunya adalah bisa membukakan pintu rezeki yang tanpa disangka-sangka.

Bacalah surat Ikhlas sebanyak mungkin setiap harinya, minimal 11 kali setiap habis menjalankan shalat fardlu.

Kelima, rutinlah membaca surat Al Waqi'ah setiap habis menjalankan shalat shubuh 1 kali (lebih dari satu kali akan lebih baik)

Khasiat utama mengamalkan surat al Waqi'ah memang agar rezeki seseorang bisa lebih lancar lagi, Siti Aisyah RA pernah meriwayatkan "Barangsiapa yang ingin rezekinya dilapangkan oleh Allah Ta'ala maka hendaklah memperbanyak membaca surat Al Waqi'ah".

Imam Al-Baihaqi juga pernah meriwayatkan, "Barangsiapa yang membaca surat Al Waqi'ah maka orang itu akan dijauhkan dari kesempitan hidup".

Keenam, Bacalah shalawat Nabi setiap kali setelah menjalankan shalat fardlu

Memperbanyak bacaan shalawat, selain bisa membuat hati menjadi tenang dan hangat, shalawat Nabi Muhammad SAW juga bisa membantu seseorang yang sedang dalam kesulitan hidup terutama soal keuangan.

Ada banyak ekali jenis shalawat Nabi, kita tinggal memilihnya. Namun dalam perkara rezeki, shalat Nariyah akan menghasilkan efek yang besar dalam hal mengatasi kesulitan mencari rezeki.

Yang terakhir, perbanyaklah membaca istighfar dengan meresapi makna dan maksudnya

Inilah bisa dikatakan dzikir paling mudah untuk diamalkan. Saya katakan paling mudah sebab setiap orang pasti sudah hafal dengan dzikir yang satu ini. Hanya saja mungkin kita kurang mengamalkannya.

Untuk membuka pintu rezeki, amalkanlah dzikir ini setiap saat dan dimanapun anda berada, bisa di lisankan bisa juga diucapkan di dalam hati. Dengan terus memohon ampunan kepada Allah Ta'ala maka segala keinginan kita termasuk keinginan mendapatkan rezeki yang melimpah akan dimudahkan.

Itulah ketujuh amalan dzikir yang ringan yang bisa kita amalkan setiap harinya. Semua dzikir yang ada diatas sudah pasti akan mudah sekali untuk dihafalkan, kecuali untuk surat al Waqi'ah, mungkin kita harus membacanya.

Agar apa yang kita dapatkan lebih berbarakah dan bermanfaat lagi untuk masa depan kita, mari kita bagikan artikel ini agar teman-teman, sahabat atau saudara kita juga mengetahuinya dan ikut mengamalkannya, semoga Allah Ta'ala memudahkan segala urusan kita. Aamiin.
Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.