Islam Era Modern Jilid 5: Alasan Tidak Boleh Benci Ahok

Menoreh Tinta - Ada satu hadits Nabi yang selama ini mendorong Kami untuk membela Ahok --yang tidak menistakan al-Quran itu-- dan membela orang-orang non-Muslim yang merasa terganggu. Anda renungkan hadits ini baik-baik. Hadits ini menunjukan bahwa ajaran Nabi Muhammad Saw lebih indah dari yang kita sangkakan.

Islam modern
Islam modern - gambar:tribunnews.com

Nabi Muhammad Saw bersabda: "Barang siapa menyakiti seorang dzimmi (warga negara non-Muslim), maka dia telah menyakitiku." (man adza dzimmiyyan faqad adzani". Riwayat lain menyebutkan: "Barang siapa menyakiti seorang dzimmi, maka aku adalah musuhnya." (man adza dzimmiyyan fa ana khasmuh).
Baca juga: Propaganda Yang Merusak Agama

Artinya, kalau Kami--sebagai seorang Muslim dan pengikut Nabi Muhammad--berani menyakiti seorang Ahok, maka boleh jadi Kami kena ancaman dua hadits tersebut. Lihat. Betapa kerasnya ancaman Islam bagi yang menyakiti seorang non-Muslim.

Bayangkan. Betapa tingginya rasa kemanusiaan Nabi Muhammad Saw yang selama ini kita agung-agungkan. Kalau ada satu orang di antara umat yang dicintainya itu berani menyakiti orang non-Muslim yang beda Agama, maka dia menyatakan permusuhan kepada orang tersebut sekalipun orang tersebut adalah orang yang dicintainya. (Baca juga: Kemarahan Pada Ahok)

Sampai detik ini Kami--yang bukan siapa-siapa Ahok dan tak pernah disuruh apalagi dibayar Ahok--tak rela menyebut Ahok sebagai "penista al-Quran" apalagi musuh Islam. Setiap kali menulis kata mengina, menista, atau penista Kami selalu membubuhkan tanda petik dalam tulisan Kami. Kalau menyebut "penista" saja Kami tak tega, apalagi mempersamakan Ahok dengan Firaun dan Raja Namrud, seperti yang dilakukan oleh salah seorang ustaz terkenal. Itu sama sekali tidak adil.

Kami hanya takut menyakiti hati Ahok jika Kami menyebut dia sebagai penista dan musuh Islam. Dan kalau Kami menyakiti Ahok, Kami hanya takut menjadi musuh Nabi Muhammad Saw kelak di hari kiamat. Dia sudah menyatakan bahwa dia tidak anti-Islam juga tidak bermaksud menistakan al-Quran. Tapi umat Islam dengan mudahnya menyebut dia sebagai "penista" dan musuh Islam yang harus dipenjarakan. (Baca juga: Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Kami selalu bilang kalau orang menista dengan penista itu beda. Kalau Anda melacur satu kali, dan Anda melacur karena terpaksa, misalnya, apa rela Anda disebut sebagai pelacur? Kalau anda hanya mabuk satu-dua kali, apa mau Anda disebut sebagai pemabuk? Kalau Anda merokok satu-dua kali, apa pantas Anda disebut sebagai perokok?

Ahok sudah membangun masjid-masjid untuk saudara-saudara Muslim Kami di Jakarta. Dia sudah mengabdikan diri kepada warga DKI Jakarta sesuai dengan kamampuannya. Bahwa dia melakukan kesalahan, tolaklah kesalahannya, tapi jangan benci orangnya. Karena itulah yang diajarkan oleh Islam. Apakah Anda masih tega menyebut orang yang sudah membangun tempat ibadah dan menyantuni saudara-saudara Anda sebagai penista al-Quran dan musuh Islam? (Baca juga: Pola pikir Muslim Akhir Zaman)

Sampai kapanpun Kami tak akan pernah tega menyebut Ahok sebagai penista dan musuh Islam, kecuali jika dia memang terang-terangan memusuhi umat Islam seperti Abu Jahal dan Abu Lahab yang menabuh genderang perang. Kami tidak ingin menjadi musuh Nabi Muhammad Saw hanya karena menyakiti seorang Ahok. Dan Kami ingin mengingatkan saudara-saudara Kami untuk lebih hati-hati dalam menilai Ahok. Kami cinta kepada Nabi Muhammad Saw, sebagaimana Kami cinta kepada Isa Almasih Alihissalam.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1184129641682030

Pemimpin Muslim Tak Selamanya Bijak, Pemimpin Bijak Tak Harus Muslim

Menoreh Tinta - Wahai kaum Muslim yang saleh dan beriman, ketahuilah bahwa pemimpin Muslim tak selamanya mampu menciptakan kepemimpinan yang Islami sekalipun dia Muslim. Sebagaimana pemimpin non-Muslim juga tak selamanya menciptakan kepemimpinan yang tidak Islami sekalipun dia non-Muslim. Islami atau tidaknya suatu kepemimpinan itu tak tertaut erat dengan Agama yang memimpin.
 
Pemimpin bijak


Orang non-Muslim bisa saja menciptakan kota yang Islami jika dia jujur. Sebagaimana orang Muslim juga mungkin saja menciptakan kota yang tidak Islami jika dia tidak jujur. Tidak semua orang Islam itu baik, sebagaimana tidak seluruh orang non-Muslim itu buruk. (Baca: Kemarahan Pada Ahok)

Alhasil, dalam memilih pemimpin, Agama itu hanya salah satu pertimbangan saja untuk memilih, tapi bukan satu-satunya. Meskipun bagi sebagian orang Agama adalah unsur terpenting, tapi tetap saja itu hanya salah satu, bukan satu-satunya. Artinya, kalau Anda sebagai Muslim meyakini bahwa ada Muslim yang lebih baik dan bisa lebih dipercaya ketimbang non-Muslim untuk memimpin, maka pilihlah yang Muslim.

Tapi kalau Anda melihat bahwa yang non-Muslim ternyata lebih mampu dan lebih bisa dipercaya ketimbang yang Muslim, bukanlah suatu keharaman jika Anda memilih yang non-Muslim. Dan inilah yang kami terima dari guru kami di al-Azhar. (Baca: Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Apa dalilnya? Sebelum Anda mengutip ayat al-Quran, timbanglah pernyataan ini dengan kewarasan Anda yang masih sehat dan belum terkontaminasi dengan ajaran kampungan. Percayalah bahwa Islam yang kita peluk tidak pernah bertentangan dengan kewarasan yang masih perawan juga tak akan mungkin bertentangan dengan nilai-nilai keadilan.

Sejauh menyangkut urusan sosial-keduniawian, Islam yang kami peluk bukanlah Islam diskriminatif yang terlampau lebay dalam mempertimbangkan keyakinan. Islam yang kami peluk akan selalu memandang bahwa yang paling terpenting untuk dijadikan pertimbangan dalam memilih pemimpin itu adalah kemampuan dan kejujuran, bukan hanya keyakinan. Karena yang kelak akan diurus oleh seorang pemimpin bukanlah keyakinan, melainkan urusan keduniawian. (Baca: Ingin pintu rezeki terbuka lebar?)

Inilah sejujurnya salah satu keindahan ajaran Islam yang kadang ditutup-tutupi oleh orang-orang yang berpikiran sempit dan politikus-politikus ganteng yang memiliki kepentingan. Tapi kalau memang Anda keukeuh dengan pandangan lain, ya silakan. Tidak jadi persoalan. Asal dengan satu catatan: Jangan suka memaksakan! Kalau memang Anda masih memiliki kewarasan!

Islam Era Modern Jilid 4: Propaganda Yang Merusak Agama

Menoreh Tinta - Para "ulama" ganteng dan beriman yang suka masuk tipi dan pengikutnya melimpah itu mestinya sadar bahwa ketika mereka memproduksi fatwa ataupun ceramah-ceramah Agama, yang akan menyimak fatwa dan pandangan-pandangan keagamaan mereka bukan hanya orang yang seagama dengan mereka, tapi juga ada orang-orang yang berbeda Agama.

Islam era modern
sumber gambar:aceh.tribunnews.com

Ada orang Kristen, Hindu, Budha, bahkan orang-orang Atheis yang terkadang otak mereka lebih canggih ketimbang kaum beragama. Mereka akan menilai ceramah dan fatwa Anda bukan dengan butiran ayat al-Quran, tapi dengan kewarasan dan akal sehat yang masih perawan. Manakala Anda buat fatwa yang tidak objektif atau ceramah yang konyol, mereka tentu akan berkata:

"Idih ini Agama norak banget. Cuma milih gubernur doank juga main larang-larang. Kan jadi gubernur mah engga ada urusannya dengan keyakinan. Idih ini Agama norak banget, ada orang yang tidak bermaksud menistakan, sudah minta maaf, tapi tetep saja disebut penista al-Quran. Sudah begitu didemo besar-besaran. Norak banget nih ulama berhadapan dengan orang kaya gitu aja harus main bunuh-bunuhan. Ga mau lah gua masuk Agama yang konyol. Mending gua ga beragama sekalian."
(Baca juga: Pantaskah memenjarakan Ahok?)
Paham ya ustaz ganteng ya? Yang menghalang-menghalangi Anda dari orang lain untuk mengenal Islam sungguhan itu sejujurnya diri Anda sendiri. Munculnya gerakan-gerakan teror itu benihnya dari ceramah dan fatwa-fatwa Anda sendiri. Adanya orang-orang yang murtad itu karena geli melihat kelakuan dan pandangan keagamaan Anda sendiri.

Sesekali Anda menyalahkan diri sendiri ketimbang terus-menerus menyalahkan orang "kafir" yang Anda yakini sebagai kandidat Ahli neraka di hari nanti. Makanya sebelum ngajak orang lain masuk Islam, Anda bersihkan dulu Agama Anda dari ajaran-ajaran kampungan yang norak dan jauh dari kewarasan. Katakan pada mereka bahwa itu bukan bagian dari Islam. Itu adalah ajaran gerandong dan mak lampir yang kini dibangkitkan kembali seiring dengan derasnya kebodohan.

Mana ada orang waras di dunia ini yang rela memeluk Agama yang penuh dendam dan kebencian. Di mana-mana orang itu suka dengan Agama yang pemaaf, santun, ramah, santai, tenang, indah, damai, masuk akal, dan yang terpenting, tidak membesar-besarkan persoalan yang tidak perlu dibesar-besarkan.
(Baca juga: Pola pikir Orang Islam Era Modern)

Penulis juga sebagai Muslim ogah banget memeluk Islam yang wajahnya demikian. Cuma untungnya Penulis tahu bahwa Islam yang sesungguhnya itu sangat indah, sesuai dengan kewarasan, dan senafas dengan denyut nadi perkembangan zaman. Hanya saja yang tampil di muka adalah Islam yang garang, kampungan dan sarat dengan kebencian.

Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda akan menjadi orang yang lebih waras dan lebih santun kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda akan merasakan kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan yang selama ini kita agungkan.

Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda tak akan menjadi orang culun yang buta dengan perkembangan zaman. Dan percayalah bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah Agama yang menjunjung tinggi keadilan. Tapi kini keadilan itu dirampas oleh orang-orang yang berkepentingan. Kini keadilan itu diperkosa oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan.

Dan keadilan itu kini sudah tewas dengan kezaliman yang dibungkus dengan nama Islam dan keagungan al-Quran. Dan sudah banyak orang-orang culun yang menjadi korban. Berhentilah Anda menyebar keculunan di negeri ini jika Anda masih berharap Agama Anda dilirik oleh orang-orang yang berbeda keyakinan.

Tampilkanlah Islam yang waras, ramah dan berkeadilan. Dan jangan sekali kali menampilkan ajaran Islam yang kampungan, norak, tengil, dan penuh kebencian kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Karena siapapun mereka dan apapun keyakinannya, mereka adalah hamba Tuhan yang harus kita muliakan.

Islam Era Modern Jilid 3 : Kemarahan Pada Ahok

Menoreh Tinta - Jangan pernah dengarkan ujaran konyol yang selalu bilang "Nabi Muhammad Saw itu tidak marah kalau yang dihina adalah dirinya. Tapi dia akan marah besar jika yang dihina adalah al-Quran dan Agamanya." Betul bahwa Nabi Muhammad itu bisa marah. Hanya saja amarahnya tak selalu diluapkan dengan ujaran kebencian yang bisa membuat orang lain marah.

nafsu amarah
Nafsu amarah - gambar: binainsan.com

Apa harus ketika Anda marah kemarahan Anda membuat Anda menjadi tidak ramah kepada orang yang marah? Bukankah amarah yang diekspresikan dengan marah hanya akan membuat orang yang tadinya marah menjadi lebih marah? Bukankah amarah yang diekspresikan dengan ucapan ramah akan membuat orang yang tadinya marah menjadi ramah? Bukankah cara semacam ini paling masuk akal untuk ditempuh oleh Nabi Muhammad Saw karena dia adalah Nabi yang penuh rahmah dan bukan Nabi yang penuh dengan amarah? (Baca juga : Alasan Mengapa Manusia Sulit Mengalahkan Nafsu)

Dalam marah pun Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang ramah. Cukuplah Anda melek dengan sejarah untuk membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah sosok yang ramah dan tidak mudah marah kepada orang-orang yang bersalah sekalipun keyakinan mereka salah. Sekiranya setiap kali ada orang yang menghina al-Quran dan Islam itu Nabi Muhammad langsung amuk-amukan, demo berjilid-jilid, dan main ancam bunuh kepada orang yang bersangkutan, niscaya tidak akan ada orang kafir yang sudi masuk Islam.

Siapa yang sudi dengan Agama demikian? Siapa yang akan sudi dengan Agama yang mengedepankan permusuhan? Siapa yang sudi dengan Agama yang memendam kebencian? Siapa yang sudi dengan Agama yang mengajarkan marah-marahan? Orang waras hanya akan sudi dengan Agama yang mengajarkan cinta dan kasih Kaming, bukan kebencian, marah-marahan, apalagi bunuh-bunuhan. Dan itulah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. (Baca juga: Mengenal Lebih Jauh Tentang Nur Muhammad -Pusat Kesatuan Alam-)

Ada yang bertanya: Lantas kalau begitu kenapa Nabi Muhammad Saw melakukan peperangan? Jawabannya: Perang yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya tak lain sebagai bentuk pembelaan dan perlawanan. Dan ingatlah wahai kaum bersumbu pendek, Nabi Muhammad Saw--yang diutus sebagai rahmat kepada seluruh alam itu--memerangi kelompok di luar Agamanya bukan semata-mata karena mereka kafir, menghina Islam ataupun menghina al-Quran, tapi Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya memerangi kelompok di luar Agamanya karena merekalah yang terlebih dahulu mengumandangkan peperangan.

Artinya apa? Kalau mereka berdamai, Nabi Muhammad juga akan berdakwah secara damai, meskipun mereka menghina Islam dan al-Quran. Tapi kalau mereka mengajak perang--padahal Nabi Muhammad hanya mengajak--ya tentu orang waras juga akan berkata bahwa sangat wajar jika Nabi Muhammad dan kelompoknya melakukan pembelaan. Contohnya Anda diajak seseorang pergi ke Kairo, kemudian Anda menolak dan penolakan itu anda lakukan sambil mengambil golok untuk menebas leher orang tersebut. Apa salah kalau orang itu melakukan pembelaan? Sangat masuk akal bukan?

Lihatlah batapa warasnya ajaran Islam. Dan lihatlah betapa indahnya akhlak Nabi Muhammad Saw. Setiap kali disakiti oleh kaumnya--yang menghina Islam dan melecehkan ajaran al-Quran itu--dia selalu berdoa: Allahummaghfir liqaumi fa innahum la ya'lamun (Tuhan, ampunilah kaumku karena sesungguhnya mereka tidak tahu)". Mengapa Nabi Muhammad Saw mengucapkan demikian? Karena Nabi Muhammad Saw bukan Nabi yang penuh kebencian, melainkan Nabi yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Tapi lihatlah kelakuan (sebagian) umatnya yang imut dan taat beragama itu: Ada orang salah dikit dan sudah minta maaf tapi masih saja didemo berjilid-jilid. "Penjaran Ahok". "Penjarakan Penista al-Quran". "Larang Pemimpin kafir". "Bela Islam". "Bela al-Quran". Alah macam-macamlah itu. Kami sendiri geli mendengarnya. (Baca juga : Khasiat membaca Al-Quran)

Kami tidak mengenal dan tidak akan sudi mengamini ajaran yang penuh kebencian semacam itu. Kalau Anda sudi melakukan hal tersebut, lakukanlah, tapi jangan mengatas-namakan Islam. Ingat ya, seperti yang sudah Kami tulis, yang demo itu minoritas, bukan mayoritas. Jadi tidak perlu mengatas-namakan Islam.

Hilangkanlah keculunan yang membuat Nabi Anda yang penuh cinta dan kasih Kaming itu buruk di mata orang-orang yang berbeda keyakinan. Nabi yang Anda imani bukan hanya rahmat bagi orang-orang Islam, tapi juga rahmat bagi seluruh alam, termasuk kelompok yang Anda sesat-kafirkan. Dia tidak pernah mengumandangkan permusuhan kecuali kepada orang atau kelompok yang memang menyatakan permusuhan. Dan itu sangat masuk akal.

Percayalah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi yang santun, penuh cinta dan memimpikan perdamaian. Karena apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Isa al-Masih Alaihissalam. Nabi Muhammad dan Isa Almasih adalah dua utusan Tuhan yang diturunkan untuk menebar kedamaian, bukan kebencian apalagi bunuh-bunuhan. Tidakkah Anda berpikir wahai para pembela al-Quran?

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1189429481152046

Islam Era Modern Jilid 2 : Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Menoreh Tinta - Dalam Islam dikenal konsep amar ma’ruf-nahi munkar (memerintahkan yang baik dan menolak yang munkar). Ini adalah tuntunan Al-Quran yang harus kita amini. Hanya saja, yang penting untuk dijadikan catatan, memerintahkan yang ma'ruf harus dengan cara yang ma’ruf. Sebagaimana menolak yang munkar juga tidak boleh menggunakan cara yang munkar.
 
amar ma’ruf-nahi munkar
Amar ma’ruf-nahi munkar - gambar: visimuslim.net

Mengapa demikian? Karena memerintahkan yang ma'ruf dengan cara yang munkar tentu akan menimbulkan kemunkaran. Sebagaimana menolak yang munkar dengan cara yang tidak ma’ruf hanya akan menimbulkan kemunkaran baru yang terkadang lebih munkar. Betul bahwa keduanya harus berjalan secara beriringan. Hanya saja keduanya harus berada dalam koridor yang ma’ruf, bukan yang munkar. (Baca juga: Khasiat Ayat-ayat Al-Quran, Hizib dan Do'a)

Kalau kaidah semacam ini diindahkan, Kita yakin umat Islam tak akan menimbulkan kerusuhan. Masalahnya kadang sekarang itu kebalik. Makanya rusuh di mana-mana. Yang ma’ruf disampaikan dengan cara yang munkar, dan yang munkar kadang ditolak dengan cara yang tidak ma’ruf.

Yang ma’ruf kadang dibungkus dengan kemunkaran, dan kemunkaran kadang dibalut dengan kearifan. "Si ma'ruf" (penyeru kearifan) kadang tidak sadar kalau dia sedang menyampaikan kemunkaran, dan "si munkar" (penolak kemunkaran) juga kadang tidak sadar bahwa yang sedang dia lakukan bukanlah sebuah kearifan.

Lalu tugas kita apa? Tugas kita bukan hanya amar ma’ruf nahi munkar --dalam pemaknaan orang kebanyakan--. Tugas kita yang tak kalah penting dari itu ialah: meluruskan “si ma’ruf” agar menyampaikan yang ma’ruf dengan cara yang ma’ruf. Dan mengingatkan “si munkar” agar menolak kemunkaran dengan cara yang tidak munkar. Karena ini juga bagian dari amar ma'ruf nahi munkar.

Ketika memerintahkan yang ma'ruf Islam tak menghendaki kecuali terciptanya sebuah kearifan. Dan ketika menolak yang munkar Islam tak mengendaki kecuali terciptanya sebuah kedamaian. Kalau semua ini dipahami dan diaktualisasikan dengan baik, percayalah bahwa apa yang diinginkan “si ma’ruf” akan berbuah kearifan. Sebagaimana yang dikehendaki oleh “si munkar” juga pasti tak akan menimbulkan kemunkaran. (Baca juga : Metode belajar "meniru" dalam tinjauan agama Islam)

Andai umat Islam bersatu padu dalam mengamalkan tuntunan Al-Quran yang satu ini dengan lurus, niscaya negeri kita akan damai dan jauh dari kerusuhan seperti yang selama ini kita rasakan. Karena Islam pada dasarnya adalah Agama yang damai, bukan Agama yang suka mengganggu perdamaian. Islam adalah Agama yang tenang, bukan Agama yang suka mengganggu ketenangan.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1188126887948972

Islam Era Modern Dan Bagaimana Pola Pikir Mereka Jilid 1

Menoreh Tinta - Teman-teman Kristen --yang kami cintai-- terus terang bahwa sekarang ini, sudah banyak orang Islam yang "lebih Kristen" ketimbang orang-orang Kristen. Kalau berbicara soal teks, tuturnya, dalam tradisi kekristenan sendiri ada teks-teks yang potensial menyulut kekerasan. Hanya saja, teks-teks tersebut tak dibaca sesuai konteksnya. Akhirnya menimbulkan kebencian. Dalam Islam juga demikian. Teks-teks yang secara lahiriah tampak "garang" itu harus dibaca secara holistis dan kontekstual, bukan dengan pembacaan parsial, dangkal dan irasional.

Islam era modern
Islam era modern - gambar:sindonews.com

Jangan hanya karena kutipan satu-dua ayat lantas Anda seenaknya menghukumi seseorang dengan sebutan kafir, sesat, dan abadi di neraka selama-lamanya. Jangan hanya karena bermodal Almaidah 51 lantas Anda seenaknya menyapu-ratakan seluruh Yahudi dan Nasrani itu musuh Islam, kafir, dan tak boleh dijadikan pemimpin di Indonesia. Kalau Anda tidak mau Agama anda disebut Agama yang "norak", tinggalkanlah cara berpikir sempit semacam itu.

Baca juga: Cerita Rohani Nabi Muhammad SAW, Beliau “Sedang tidak bersama kita”

Semua yang belajar Ilmu Tafsir pasti tahu bahwa setiap ayat dalam Al-Quran itu memiliki kaitan erat dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Ada yang disebut siyaq, sibaq dan lihaq. Itu sebabnya dalam tradisi Ilmu Tafsir dikenal istilah Ilmu Munasabat al-Ayat (Ilmu tentang korelasi ayat). Karena Al-Quran itu --seperti yang diilustrasikan para Mufassir-- adalah satu kesatuan rantai yang tak terpisahkan.

Artinya, kalau Anda suka memenggal satu ayat --Almaidah 51 misalnya-- dengan mengabaikan keterkaitan ayat tersebut dengan ayat-ayat yang lain, baik sebelum maupun sesudahnya, Anda sudah menempuh metode konyol yang tak diamini oleh para Mufassir itu sendiri. Apa bedanya Anda dengan kaum Jihadis yang suka teriak-teriak bunuh dengan bermodal satu dua ayat quran itu? Semua pelajar Muslim kami kira tahu ini. Tapi giliran urusan politik kaidah suci ini diumpet-umpetin ke tong sampah.

Lepas dari perdebatan soal itu, dari teman Kristen tadi kami belajar bahwa di tengah "kemelut" Pilkada DKI yang semakin panas dan aduhai ini, masih ada orang-orang waras yang menilai Agama secara objektif dan terukur. Orang-orang yang tak suka mencampur adukan antara praktek umat beragama yang tak mencerminkan Agama, dengan teks-teks Agama yang kadang disalah-pahami oleh para pemeluk Agama.

Baca juga: Kisah bersejarah Imam Syafi'i kecil VS gerombolan perampok, inilah makna sebenarnya

Ingat, apa yang dilakukan oleh pemeluk Agama itu tak selamanya mencerminkan Agama, bahkan kadangkala menodai ajaran Agama. Dalam beragama itu setidaknya ada empat kelompok: Ada orang yang paham dan pemahamannya benar. Ada orang yang paham tapi pemahamannya keliru. Ada orang yang tidak paham tapi mau paham. Dan ada juga orang yang tidak paham, kemudian tidak mau paham, sudah begitu pura-pura paham dan memahamkan orang lain dengan pemahamannya yang salah paham.

Paling repot itu memang kalau sudah berurusan dengan yang keempat ini. Apalagi kalau sudah terlanjur disebut ulama. Kalau Anda berani "mencubit" mereka, bersiap-siaplah Anda disebut sebagai orang tak beradab dan kurang ajar kepada ulama. Intinya, sebagai orang waras kita harus adil dalam memahami Agama. Sebagaimana kita juga harus berlaku adil kepada orang-orang yang tak seagama. Karena itulah yang diajarkan oleh Agama kita.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1182965441798450
Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.