Home » » Islam Era Modern Dan Bagaimana Pola Pikir Mereka Jilid 1

Islam Era Modern Dan Bagaimana Pola Pikir Mereka Jilid 1

Menoreh Tinta - Teman-teman Kristen --yang kami cintai-- terus terang bahwa sekarang ini, sudah banyak orang Islam yang "lebih Kristen" ketimbang orang-orang Kristen. Kalau berbicara soal teks, tuturnya, dalam tradisi kekristenan sendiri ada teks-teks yang potensial menyulut kekerasan. Hanya saja, teks-teks tersebut tak dibaca sesuai konteksnya. Akhirnya menimbulkan kebencian. Dalam Islam juga demikian. Teks-teks yang secara lahiriah tampak "garang" itu harus dibaca secara holistis dan kontekstual, bukan dengan pembacaan parsial, dangkal dan irasional.

Islam era modern
Islam era modern - gambar:sindonews.com

Jangan hanya karena kutipan satu-dua ayat lantas Anda seenaknya menghukumi seseorang dengan sebutan kafir, sesat, dan abadi di neraka selama-lamanya. Jangan hanya karena bermodal Almaidah 51 lantas Anda seenaknya menyapu-ratakan seluruh Yahudi dan Nasrani itu musuh Islam, kafir, dan tak boleh dijadikan pemimpin di Indonesia. Kalau Anda tidak mau Agama anda disebut Agama yang "norak", tinggalkanlah cara berpikir sempit semacam itu.

Baca juga: Cerita Rohani Nabi Muhammad SAW, Beliau “Sedang tidak bersama kita”

Semua yang belajar Ilmu Tafsir pasti tahu bahwa setiap ayat dalam Al-Quran itu memiliki kaitan erat dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Ada yang disebut siyaq, sibaq dan lihaq. Itu sebabnya dalam tradisi Ilmu Tafsir dikenal istilah Ilmu Munasabat al-Ayat (Ilmu tentang korelasi ayat). Karena Al-Quran itu --seperti yang diilustrasikan para Mufassir-- adalah satu kesatuan rantai yang tak terpisahkan.

Artinya, kalau Anda suka memenggal satu ayat --Almaidah 51 misalnya-- dengan mengabaikan keterkaitan ayat tersebut dengan ayat-ayat yang lain, baik sebelum maupun sesudahnya, Anda sudah menempuh metode konyol yang tak diamini oleh para Mufassir itu sendiri. Apa bedanya Anda dengan kaum Jihadis yang suka teriak-teriak bunuh dengan bermodal satu dua ayat quran itu? Semua pelajar Muslim kami kira tahu ini. Tapi giliran urusan politik kaidah suci ini diumpet-umpetin ke tong sampah.

Lepas dari perdebatan soal itu, dari teman Kristen tadi kami belajar bahwa di tengah "kemelut" Pilkada DKI yang semakin panas dan aduhai ini, masih ada orang-orang waras yang menilai Agama secara objektif dan terukur. Orang-orang yang tak suka mencampur adukan antara praktek umat beragama yang tak mencerminkan Agama, dengan teks-teks Agama yang kadang disalah-pahami oleh para pemeluk Agama.

Baca juga: Kisah bersejarah Imam Syafi'i kecil VS gerombolan perampok, inilah makna sebenarnya

Ingat, apa yang dilakukan oleh pemeluk Agama itu tak selamanya mencerminkan Agama, bahkan kadangkala menodai ajaran Agama. Dalam beragama itu setidaknya ada empat kelompok: Ada orang yang paham dan pemahamannya benar. Ada orang yang paham tapi pemahamannya keliru. Ada orang yang tidak paham tapi mau paham. Dan ada juga orang yang tidak paham, kemudian tidak mau paham, sudah begitu pura-pura paham dan memahamkan orang lain dengan pemahamannya yang salah paham.

Paling repot itu memang kalau sudah berurusan dengan yang keempat ini. Apalagi kalau sudah terlanjur disebut ulama. Kalau Anda berani "mencubit" mereka, bersiap-siaplah Anda disebut sebagai orang tak beradab dan kurang ajar kepada ulama. Intinya, sebagai orang waras kita harus adil dalam memahami Agama. Sebagaimana kita juga harus berlaku adil kepada orang-orang yang tak seagama. Karena itulah yang diajarkan oleh Agama kita.

Sumber: https://www.facebook.com/ibnu.shihab.3/posts/1182965441798450

0 komentar:

Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.