Home » » Islam Era Modern Jilid 4: Propaganda Yang Merusak Agama

Islam Era Modern Jilid 4: Propaganda Yang Merusak Agama

Menoreh Tinta - Para "ulama" ganteng dan beriman yang suka masuk tipi dan pengikutnya melimpah itu mestinya sadar bahwa ketika mereka memproduksi fatwa ataupun ceramah-ceramah Agama, yang akan menyimak fatwa dan pandangan-pandangan keagamaan mereka bukan hanya orang yang seagama dengan mereka, tapi juga ada orang-orang yang berbeda Agama.

Islam era modern
sumber gambar:aceh.tribunnews.com

Ada orang Kristen, Hindu, Budha, bahkan orang-orang Atheis yang terkadang otak mereka lebih canggih ketimbang kaum beragama. Mereka akan menilai ceramah dan fatwa Anda bukan dengan butiran ayat al-Quran, tapi dengan kewarasan dan akal sehat yang masih perawan. Manakala Anda buat fatwa yang tidak objektif atau ceramah yang konyol, mereka tentu akan berkata:

"Idih ini Agama norak banget. Cuma milih gubernur doank juga main larang-larang. Kan jadi gubernur mah engga ada urusannya dengan keyakinan. Idih ini Agama norak banget, ada orang yang tidak bermaksud menistakan, sudah minta maaf, tapi tetep saja disebut penista al-Quran. Sudah begitu didemo besar-besaran. Norak banget nih ulama berhadapan dengan orang kaya gitu aja harus main bunuh-bunuhan. Ga mau lah gua masuk Agama yang konyol. Mending gua ga beragama sekalian."
(Baca juga: Pantaskah memenjarakan Ahok?)
Paham ya ustaz ganteng ya? Yang menghalang-menghalangi Anda dari orang lain untuk mengenal Islam sungguhan itu sejujurnya diri Anda sendiri. Munculnya gerakan-gerakan teror itu benihnya dari ceramah dan fatwa-fatwa Anda sendiri. Adanya orang-orang yang murtad itu karena geli melihat kelakuan dan pandangan keagamaan Anda sendiri.

Sesekali Anda menyalahkan diri sendiri ketimbang terus-menerus menyalahkan orang "kafir" yang Anda yakini sebagai kandidat Ahli neraka di hari nanti. Makanya sebelum ngajak orang lain masuk Islam, Anda bersihkan dulu Agama Anda dari ajaran-ajaran kampungan yang norak dan jauh dari kewarasan. Katakan pada mereka bahwa itu bukan bagian dari Islam. Itu adalah ajaran gerandong dan mak lampir yang kini dibangkitkan kembali seiring dengan derasnya kebodohan.

Mana ada orang waras di dunia ini yang rela memeluk Agama yang penuh dendam dan kebencian. Di mana-mana orang itu suka dengan Agama yang pemaaf, santun, ramah, santai, tenang, indah, damai, masuk akal, dan yang terpenting, tidak membesar-besarkan persoalan yang tidak perlu dibesar-besarkan.
(Baca juga: Pola pikir Orang Islam Era Modern)

Penulis juga sebagai Muslim ogah banget memeluk Islam yang wajahnya demikian. Cuma untungnya Penulis tahu bahwa Islam yang sesungguhnya itu sangat indah, sesuai dengan kewarasan, dan senafas dengan denyut nadi perkembangan zaman. Hanya saja yang tampil di muka adalah Islam yang garang, kampungan dan sarat dengan kebencian.

Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda akan menjadi orang yang lebih waras dan lebih santun kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda akan merasakan kedamaian dan kedekatan dengan Tuhan yang selama ini kita agungkan.

Percayalah bahwa dengan menjadi Muslim sungguhan Anda tak akan menjadi orang culun yang buta dengan perkembangan zaman. Dan percayalah bahwa Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw adalah Agama yang menjunjung tinggi keadilan. Tapi kini keadilan itu dirampas oleh orang-orang yang berkepentingan. Kini keadilan itu diperkosa oleh orang-orang yang haus akan kekuasaan.

Dan keadilan itu kini sudah tewas dengan kezaliman yang dibungkus dengan nama Islam dan keagungan al-Quran. Dan sudah banyak orang-orang culun yang menjadi korban. Berhentilah Anda menyebar keculunan di negeri ini jika Anda masih berharap Agama Anda dilirik oleh orang-orang yang berbeda keyakinan.

Tampilkanlah Islam yang waras, ramah dan berkeadilan. Dan jangan sekali kali menampilkan ajaran Islam yang kampungan, norak, tengil, dan penuh kebencian kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Karena siapapun mereka dan apapun keyakinannya, mereka adalah hamba Tuhan yang harus kita muliakan.

0 komentar:

Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.