Home » » Benarkah Filsafat Itu Membuat Orang Sesat?

Benarkah Filsafat Itu Membuat Orang Sesat?

Menoreh Tinta - Sebagai makhluk yang dikarunia akal, harus diakui bahwa berfilsafat merupakan sebuah keniscayaan. Orang boleh membenci filsafat dan pemikiran, tapi—seperti yang ditulis oleh Prof. Mahmud Hamdi Zaqzuq, Guru Besar Filsafat Barat dan Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar—berfilsafat adalah bagian tak terpisahkan dari fenomena dan tradisi kemanusiaan.

Filsafat
Foto:PsychoShare.com

Bahkan—tulis Zaqzuq lebih jauh—orang yang membenci dan menolak filsafat sendiri diharuskan untuk berfilsafat. Bagaimana dia bisa menolak filsafat kalau dia sendiri tak berfilsafat? Dengan demikian, berfilsafat adalah sebuah keniscayaan tak bisa diabaikan.

Namun, tak semua orang yang berfilsafat itu mampu menjadi Ahli Filsafat. Sebagaimana orang yang berfilsafat itu tak selamanya mampu mengetahui hakikat berfilsafat. Bahkan, bisa jadi seseorang dikatakan sebagai Ahli Filsafat, dan memiliki setumpuk wawasan filsafat, tapi pada hakikatnya dia belum mampu menjiwai hakikat dan tujuan berfilsafat dengan tepat.

Akhirnya bisa jadi ia tersesat. Mengapa selama ini tradisi berfilsafat sering diasosiasikan dengan terma "sesat", seolah-olah Filsafat itu hanya ditakdirkan sebagai ilmu yang sesat sehingga yang mempelajarinya pun bisa terlaknat? (baca juga: Pemimpin Muslim Tak Selamanya Bijak, Pemimpin Bijak Tak Harus Muslim)

Dalam pandangan Prof. Dr. Mahmud Husein—Guru Besar Ilmu Tauhid dan Filsafat Islam Universitas al-Azhar—orang yang hendak berfilsafat dan mendalami filsafat itu bisa diluksikan seperti orang yang hendak mengarungi kedalaman lautan. Tidak semua orang yang hendak merasakan kedalaman hamparan lautan itu "berani" menyemplungkan diri kedalam lautan. Ada orang yang bisanya hanya nangkring di pinggiran. Tapi ada juga orang yang berani mencemplungkan diri kedalam sampai tenggelam.

Orang yang bermental tempe dan hanya berdiri di samping lautan, kemungkinan besar jika air lautan tumpah ia pun akan terdampar dengan mudah. Sudah terdampar, kedalaman lautan yang hendak ia rasakan pun tak kunjung ia rasakan. Tapi orang yang terus menerus mendayung perahu ke tengah dan berani mencemplungkan diri kedalam dasar lautan, pasti ia akan tenggelam dan akan sadar bahwa lautan yang selama ini di matanya tampak itu ternyata tak hanya sekedar luas, tapi juga dalam mengagumkan. (baca juga: Meluruskan Arti Amar Ma'ruf Nahi Munkar)

Nah, orang yang berfisafat pun—kata Mahmud Husein lebih lanjut—perumpamaannya demikian. Orang yang bisanya hanya nangkring di tepi samudera filsafat, pasti tak akan pernah mampu mereguk kedalaman filsafat, juga tak menutup kemungkinan ia terdampar oleh "ombak" sehingga pada akhirnya ia bisa tersesat. Dengan demikian, orang yang berfilsafat dan kemudian sesat itu, disebabkan, antara lain, karena dia baru merasakan kulit filsafat, dan belum mampu merasakan hakikat dan tujuan filsafat dengan tepat.

Tapi orang yang tak berhenti mencari hakikat dan berani mencemplungkan diri kedalam lautan filsafat, pasti ia akan merasakan hakikat dan inti dari filsafat, sekaligus ia akan sadar bahwa ternyata lautan filsafat itu dalam dan luas. Orang semacam ini jelas tak akan pernah tersesat. (baca juga: Cerita Rohani Nabi Muhammad SAW, Beliau “Sedang tidak bersama kita”)

Sebab, jika ia sudah merasakan bahwa lautan filsafat itu dalam dan luas, tentu ia akan lebih sadar akan kemaha-luasan Dzat Yang mendorongnya untuk berfilsafat, dan pada saat yang sama, ia tak akan pernah jumawa dan merasa lebih mampu berfilsafat, baik dari orang-orang yang mampu berfilsafat, maupun dari orang-orang yang tak mampu berfilsafat.

Senada dengan pandangan Mahmud di atas, Prof. Dr. Hassan Syaf'ii—seorang Pakar Ilmu Kalam dan Filsafat dari London University, yang juga Anggota Dewan Ulama Senior Al-Azhar—pernah berkata bahwa: "Kebanyakan orang yang terpedaya dengan filsafat itu ialah orang-orang yang tak mampu mendalami hakikat berfilsafat" (Inna aktsar al-Nâs inkhidâ'an bi al-Falsafah Jâhiluhâ). Demikian kurang lebih Hasan Syafii.

Dari uraian singkat ini, terang bahwa orang-orang yang selama ini tersesat karena filsafat itu justru adalah orang-orang yang tak mampu mendalami hakikat filsafat, sehingga, alih-alih merasakan kedalaman filsafat dan sadar akan kebasaran Dzat Yang MahaKuat yang telah mendorongnya untuk berfilafat, justru ia akan terdampar oleh ombak lautan filsafat, dan pada akhirnya akan tersungkur kedalam lembah filsafat yang sesat. (baca juga: Alasan Mengapa Manusia Sulit Mengalahkan Nafsu)

Sungguh, betapa banyaknya di lingkungan kita orang-orang yang dikenal sebagai Ahli Filsafat, tapi sejujurnya—seperti kata Hasan Syafi'i—ia baru merasakan “kulit” filsafat dan belum mampu mendalami hakikat filsafat. Semoga saja saya, anda, dan kita semua yang mendalami filsafat tidak sesat dan disesatkan oleh filsafat, tapi justru dengan filsafat kita mampu merasakan kebesaran Dzat Yang MahaKuat yang telah mendorong kita untuk berfilsafat.

Sumber: qureta.com/author/muhammadnuruddin

0 komentar:

Pecinta Sholawat. Powered by Blogger.